4 Agustus 2013

Merindukan Lhya

Delapan tahun yang lalu, saya dan Lhya bertemu di sebuah organisasi kepalangmerahan sekolah. Saking akrabnya, kami berdua sepakat untuk melanjutkan pendidikan di SMA yang sama, tentunya dengan kembali bergabung di dalam organisasi kepalangmerahan di sekolah tersebut. Syukurlah, harapan kami untuk diterima sebagai siswa di sekolah yang sama benar-benar terwujud. Selain itu, saya dan Lhya juga disambut dengan baik oleh beberapa kakak kelas yang sebelumnya telah mengenal kami di organisasi palang merah. Selama enam tahun saya dan Lhya tidak pernah ditakdirkan untuk mengikuti proses belajar di dalam ruangan yang sama (re: sekelas), namun hubungan pertemanan kami melebihi dari itu. Karena organisasi pada hakikatnya adalah sebuah keluarga, maka dari itulah keterikatan diantara kami cukup kuat.

Jika bertemu Lhya, rasanya berat untuk berpisah. Topik pembicaraan yang kami hadirkan selalu beragam. Dari yang paling serius, sampai hal-hal yang sangat konyol. Tak jarang kami juga menciptakan istilah atau nama-nama samaran yang kami rahasiakan saat berbincang di keramaian. Lhya sangat bersemangat dalam melakukan apapun, terutama saat berbicara. Saking semangatnya, saya sering tidak paham dengan apa yang dia ucapkan. 

saat dihukum oleh guru BK karena terlambat 

Ketika saya berulang tahun, Lhya selalu hadir sebagai orang pertama yang memberikan saya ucapan dengan pesan berlembar-lembar. Selain itu, hanya dengan Lhya saya mampu menghabiskan waktu berjam-jam lamanya untuk ngobrol di telepon rumah, YM-an hingga larut, serta webcame-an saat ramadhan tiba. 


Selama liburan semester ini, saya sering bertemu Lhya. Bahkan, selama dua hari saya menginap di rumahnya. Menghabiskan waktu di malam hari dengan menonton video klip boyband korea sambil ngemil hingga waktu sahur tiba, dilanjut dengan menonton film, sesekali bercanda sambil merencanakan kegiatan yang akan kami lakukan di pagi hari. Seketika semuanya buyar karena kami ketiduran. 

Kemarin malam, saya memutuskan untuk tidur lebih awal. Sedangkan Lhya sedang asyik mengunduh beberapa video reality show korea yang katanya akan dia tonton saat tiba di kampung halamannya. Beberapa saat setelah itu saya mendengar dia sedang cekikikan sambil menempelkan telepon genggamnya di wajah saya. Saya terbangun dan kebingungan. Masih sambil tertawa, dia menjelaskan bahwa selama saya tidur, saya mengigau sambil menyebut-nyebut nama Laura Basuki dan beberapa tokoh dari serial drama Princess Hours. Hm, rupanya dia berniat untuk merekamnya.

***

Tadi pagi, Lhya memberi kabar kalau dia telah tiba di Palopo. Dia ingin berlebaran disana katanya. Tiba-tiba saja saya sangat rindu padanya. Apalagi pesannya tiba ketika saya sedang menyaksikan episode terakhir dari Princess Hours. Iya, Princess Hours merupakan serial drama favorit kami berdua. Seketika wajah ini kuyup dengan air mata. Saya terenyuh ketika melihat adegan Shin Chae-Gyeoung berlari mengejar mobil yang membawa Shin Goon untuk disomasi. Di sisi lain, saya juga sangat merindukan Lhya. Setiap menonton atau mendengarkan soundtrack dari drama korea, saya pasti teringat Lhya. Itu disebabkan karena kami berdua mulai tergila-gila dengan drama korea ketika umur kami hampir menginjak angka dua puluh. Ya, anggap saja kami telat alay.....................

Lhya itings, cepat pulang. Bogoshipeo ~~~

- 03 Agustus 2013
sayup-sayup terdengar Perhaps Love (Sarang In Ga Yo) 

2 komentar:

brilliant_Pharasca.Princess mengatakan... Balas

kalian berdua gk bosan2 yah ??? sll sama2 dr kls satu SMP...hehehe.. msh ingat wktu kalian kls 1

Nur Rahmah Makmur mengatakan... Balas

@brilliant_Pharasca.Princess: Hehe, tidak bosan dong, Kak.. semua karena berawal dari pertemuan kami di PMR, :')