31 Desember 2015

Sarjana, lalu?

Ah… rasanya sudah lama sekali tidak berkunjung disini. Meskipun sudah tidak ada lagi kesibukan kampus yang menjadi alasan saya untuk berberat hati menuliskan beberapa tulisan, namun beban setelah lulus memaksa saya untuk tidak terlalu sering meluangkan waktu menjajaki dunia maya. Sejak tanggal 24 Juni kemarin, saya resmi berstatus “sarjana pengangguran”. Sefavorit-favoritnya perguruan tinggi, memang tidak ada yang menjamin lulusannya sukses di dunia kerja. Bahkan, serumit-rumitnya jurusan suatu universitas, jurusan tersebut pun belum tentu menjamin lulusannya mendapatkan pekerjaan dengan mudah.

Saya termasuk tipikal orang yang selalu terpacu dengan kesuksesan orang lain. Melihat orang-orang yang sukses di bidang akademiknya, yang diberikan kelancaran sampai meraih gelarnya, yang diberikan kemujuran hingga memperoleh pekerjaannya, dan masih banyak lagi. Namun ternyata ini tidak berlaku ketika beberapa sahabat seperjuangan saya di kampus diberi rezeki mendapatkan pekerjaan dengan cepat. Saya kepikiran berhari-hari, merasa payah akan diri sendiri, dan akhirnya sakit karena membebani diri.

Beruntung saja, sebulan setelah menganggur saya ditawari oleh senior untuk menjadi mitra kerja di BPS (Badan Pusat Statistik) Makassar. Selama setengah bulan saya membantu mengentri data dan alhamdulillah penghasilannya memuaskan ehehe. Honor tersebut saya gunakan untuk memperbaiki susunan gigi saya yang sangat berantakan dan tadaaaa

Anabel = Anak Berbehel

Setelah pergi pagi pulang petang dan duduk di komputer selama berhari-hari, terasa singkat ketika saya kembali menganggur dan hanya sesekali belajar di rumah. Namun apapun kondisi yang diberikan, sepatutnya saya syukuri. Sejak tidak disibukkan dengan apapun, saya jadi lebih sering berkumpul dan bercengkrama dengan sahabat-sahabat saya sejak SMA. Disebabkan rumah Popi yang tidak begitu jauh dari rumah, jadilah saya selalu mampir kesana. Oleh ide yang dicetuskan Keong, kami sepakat untuk menjadikan pertemuan-pertemuan kami lebih bermanfaat. Tidak hanya bertemu, ketawa ketiwi, dan sebagainya, tetapi kami akan membuat suatu usaha agar kami tidak lagi menengadahkan tangan kepada orang tua untuk meminta uang saku.

Berdasarkan gaya hidup kebanyakan orang saat ini yang pada momen-momen tertentu memberikan bunga untuk orang yang dikasihinya, kami belajar dari internet untuk membuat buket bunga cantik dari kain flanel. Awalnya kami hanya mempromosikannya dari kenalan-kenalan saja, namun banyaknya permintaan membuat kami memutuskan untuk turun langsung di beberapa lokasi wisudahan serta mempublikasikannya di internet. Tidak hanya itu, proposal usaha kami yang dibuat oleh Keong lulus seleksi dan diutus ke Jakarta untuk mengikuti tahap selanjutnya. Tapi sayangnya Keong tidak berhasil lolos dan tidak menimbulkan kekecewaan sedikitpun untuk kita berenam.

Sebenarnya kami bersahabat sebanyak tujuh orang, tetapi karena Hilda masih berkutat dengan skripsinya dan berkuliah di Bandung, dia tidak bisa bergabung. Sedangkan kami berenam sudah pada menyelesaikan kuliah dan hanya Acik yang mempunyai pekerjaan tetap. Sembari menjemput rezeki (pekerjaan, berkeluarga, atau melanjutkan sekolah) kami di masa mendatang, kami berenam akan tetap melanjutkan usaha ini sebisa mungkin. Jika dikatakan banyak sarjana yang malu untuk berjualan, itu tidak berlaku untuk kami. Sebab malu yang sesungguhnya yakni ketika kita tidak melakukan dan menghasilkan apa-apa :)

Sebelum berjualan

Setelah berjualan wkwk

mau pesan atau sekedar tanya seputar buket handmade lucu dari kami? follow instagram ge's florist dan klik link di bio aja yaa
*GE merupakan singkatan dari Girls Entrepreneur

30 September 2015

Tahun Pertama

Masih ingatkah kamu pada hari itu? Hari di mana kita pertama kali bertemu bersama empat kawan lainnya di atas mobil openkap yang mengantarkan kita ke posko. Aku menanyakan hal-hal biasa. Nama, jurusan. Sejak saat itu, kita berkumpul bersama menjadi sebuah keluarga.

Dua pekan pertama menjalani hari-hari KKN bersama, akhirnya kita diberi kesempatan selama seminggu untuk kembali ke rumah. Untuk pertama kalinya kamu berkunjung ke rumahku dalam rangka silaturrahmi pasca lebaran. Kita berbicara tentang hal-hal biasa. Hanya seputar prosedur kelulusan di jurusan dari masing-masing kita.

Sekembalinya ke lokasi KKN, kita mulai dekat. Kemana-mana kita selalu bepergian bersama. Karena kondisi posko kita yang sangat jauh dari kantor camat, pasar, dan tempat-tempat lain sementara motor hanya ada tiga buah, maka aku selalu menjadi beban boncenganmu.

Masih ingatkah kamu pada hari itu? Hari di mana kamu mengajakku untuk bergegas meninggalkan malam kesenian di lapangan kantor camat dan kembali ke posko guna menemanimu mempersiapkan bahan sosialisasimu esok hari di Sekolah Dasar. Entah kenapa perasaan gugup tiba-tiba datang. Mungkin aku mulai ............... suka.

Beberapa hari menjelang penarikan, kesedihan melandaku. Berpisah dengan kekeluargaan, kebersamaan, dan keakraban kita merupakan alasan utama. Masih teringat jelas detik-detik terakhir mata kita tidak sengaja beradu di lapangan kampus saat sibuk mencari penjemput kita masing-masing. Dan pada akhirnya kita harus berpisah setelah berbulan lamanya kemana-mana selalu bersama.

Berkat jabatan sebagai sekretaris desa saat KKN, saya menyimpan biodata diri semua teman-teman. Begitupun kamu. Aku akhirnya tahu bahwa beberapa hari lagi kamu berulang tahun. Sehari sebelum ulang tahunmu, kita berenam menyempatkan diri untuk berolahraga sore di kampus sepulang kuliah. Setelah itu, kita mampir di warung coto dan dengan kemahiran berceritaku, akhirnya kuumumkan di depan teman-teman bahwa kau berulang tahun. Seperti biasa, kamu hanya diam.

Masih ingatkah kamu pada hari itu? Hari di mana aku menuliskan seputar ulang tahunmu di blog ini dan setelah kau membacanya, lantas kau menuliskan beberapa kata di salah satu jejaring sosialmu yang jarang kau kunjungi. Tak sengaja aku menemukannya. Aku pun bingung. Mengapa aku semakin suka padahal tak tahu apakah kalimat itu benar-benar untukku. 

Percakapan-percakapan kecil pada salah satu aplikasi chat selalu kita hadirkan. Aku merasa kita bergerak untuk tujuan yang sama meski sifat dan tingkah laku kita sangat sangat berbeda. Aku yang tak berbakat mengartikan keterdiaman dan kamu yang serupa patung tak bersuara. Aku yang sangat senang bercerita panjang dan kamu yang merespon hanya dengan satu kata. 

Menjelang pekan ketiga September, kita berenam kembali bertemu untuk mengerjakan laporan akhir. Teman-teman mungkin tak tahu bagaimana aku (atau mungkin kamu) nampak menahan rasa bahagia di kala bertemu. Tak pernah luput kalimat pada statusmu di ingatanku. 

Masih ingatkah kamu pada hari itu? Hari di mana seminar akhir KKN terselenggara dengan hanya mengisi absen dan mengumpul laporan. Setelahnya, kita berenam memutuskan untuk pergi berfoto bersama di salah satu studio foto dan kemudian mampir di rumahmu. Kupikir itu adalah momen terakhir kalinya aku dapat berkumpul cekikikan bersama kalian, bersama kamu. Hari berganti malam, terasa cepat berlalu. Kita kembali bercakap di BBM dan aku memberanikan diri untuk bertanya perihal status yang kau tulis. Kamu diam. Aku terus bertanya dan bertanya. Kamu menjawab. Ya, itu untuk aku, katamu. 

Aku semakin percaya ketika jarak itu semakin dekat bahwa ternyata tujuan kita satu. Di akhir percakapan, kita memutuskan untuk berjalan bersama. 

***

September hampir berakhir. Kita sudah terlatih untuk terbiasa dengan perbedaan. Sudah berkali-kali menghadapi kesenangan dan kesedihan. Dan begitu banyak pengalaman, pelajaran, dan hal-hal manis yang kita lalui setahun belakangan.

Kini, telah sampai kita di sini. Masih ada banyak hari ke depan yang menunggu untuk kita jalani. Dan ini adalah perayaan kita yang pertama kali. Selamat tahun pertama, Andi Try Dharmanasatya. Jangan menyerah terlalu dini :)


11 Juli 2015

Pendamping Wisuda

Momen wisuda selalu menjadi momen yang dinanti oleh setiap mahasiswa, termasuk saya tentunya. Sejak hari di mana saya sah menyandang gelar Sarjana Sains, saya punya waktu dua pekan untuk mengurus berbagai hal demi keperluan wisuda. Mulai dari merevisi skripsi sampai benar-benar rampung, sampai membagikan cetakan skripsi beserta CD yang berisi file skripsi dan jurnal ke beberapa pihak: kedua dosen pembimbing utama dan pertama, perpustakaan jurusan, perpustakaan fakultas, perpustakaan pusat, dan beberapa tempat lagi. 

Ketika urusan pempublikasian skripsi saya telah rampung, saya diberikan nomor beserta kalung wisudawan serta undangan yang ditujukan untuk kedua orang tua. Kebahagiaan saya menjelang wisuda lantas lenyap ketika sesampainya di rumah ibu saya mengatakan tidak dapat hadir dikarenakan harus jagain Azimah, ponakan saya yang paling bontot, karena ibunya (kakak saya) tugas di luar kota. Akibatnya, saya ngambek selama beberapa hari yang ternyata tidak berefek apa-apa. Kesal saja ketika mengingat ibu dan bapak dapat hadir di wisuda kakak-kakak saya, sedangkan saya yang notabene adalah anak bungsu, dibiarkan wisuda tanpa didampingi orang tua yang lengkap. 

Hari wisudaku tiba. Meskipun hanya berdua bersama Bapak, saya tetap bahagia dan mensyukuri bahwa dari sekian banyak orang, tidak semuanya dapat berkuliah, dari sekian banyak yang kuliah, tidak semuanya dapat kuliah di kampus ini, dan dari sekian banyak yang kuliah di kampus ini, tidak semuanya berakhir dengan wisuda. Sebelum memasuki auditorium Baruga A.P. Pettarani, saya menyempatkan diri untuk singgah berfoto dulu di depan latar rak buku ala-ala wisuda bersama Bapak. 

Ibu, Bapak, anak bungsumu sudah sarjana :)

Satu lagi peristiwa penting yang saya lalui selama bulan ramadhan selain ber-KKN tahun lalu, yakni wisuda. Mengikuti prosesi wisuda saat berpuasa membuat suasana di dalam Baruga sedikit lebih sakral. Sekitar pukul 11.30, tibalah giliran saya untuk berbaris, naik ke panggung, dan menyalami dekan dan rektor yang sekaligus memindahkan tali toga saya sebagai simbol saya telah lulus dan siap mengabdi di masyarakat sesuai dengan bidang yang saya pelajari saat kuliah. 

Hari sudah siang. Matahari tertutup mendung mengantarkan saya meninggalkan auditorium yang menjadi lokasi penyambutan saat saya berstatus mahasiswa baru. Di tengah ribuan wisudawan-wisudawati, saya sibuk mencari Bapak yang berada di antara kerumunan tamu undangan. Setelah bertemu, kamipun bergegas menuju jurusan saya, jurusan Matematika, yang mana telah dipersiapkan acara ramah tamah di sana. Di tengah perjalanan, saya mendengar suara yang memanggil-manggil nama saya. Ah, sahabat-sahabat semasa SMA saya ternyata datang. Karena saya buru-buru, maka kami mengambil gambar bersama dengan buru-buru pula. 


Saat akan menaiki tangga untuk ke lantai tiga di mana jurusan saya berada, saya mendapat telepon dari Bayo, koordinator desa saat KKN. Alangkah terkejutnya saya ketika melihat teman-teman seposko juga datang, meskipun minus Ira dan Abu. 


bareng orang yang saat di lokasi KKN selalu ngomong kalo bakal wisuda bulan Desember 2014 tapi sampe sekarang belum proposal -_-

Selepas acara ramah tamah di jurusan, saya menemui mereka yang telah rela dan sabar menunggui saya sekian jam. 

yang bela-belain datang di tengah kesibukan kerjaan dan kampusnya. Untuk Hilda yang masih berjuang di Bandung, semangat!

sohib dan senior saat di PMR. bersama saya, kami tidak pernah absen mengunjungi wisuda masing-masing. habis ini, kita ke wisudanya siapa lagi ya? :|

sahabat dan kelompok belajar yang lulusnya hampir berbarengan. selamat wisuda untuk kita, Aidil, Asdar, Riza, dan Wawan. terima kasih untuk bunganya, Nita. meskipun Ainun, Ulfah, dan Akra tidak sempat hadir, tapi semangat dan dukungan dari kalian selalu hadir.

Wisuda kali ini memang tidak seriuh wisuda yang biasanya. Cuaca mendung bahkan gerimis, tidak ada acara makan-makan sebab bulan ramadhan, tidak begitu ramai sebab sudah libur panjang, dan euforia yang tidak begitu besar. Awalnya, saya merasa tidak ada bedanya dengan acara wisuda tersebut. Sepi. Ibu di rumah, kakak-kakak pun sibuk dengan urusannya, tidak ada yang istimewa dari kelulusan saya. Padahal wisuda seharusnya menjadi hal yang paling membanggakan dan ditunggu-tunggu. Begitu juga dengan orang-orang yang mendampingi saat wisuda, tentunya orang-orang spesial. Untungnya kehadiran dari mereka; kekasih, teman, sahabat, mampu mengobati kesedihan saya yang merasa terpuruk sebab tidak dapat menikmati momen keberhasilan dengan kedua orang tua. 

Sebaik-baik pendamping wisuda adalah orang tua. Namun, didampingi orang-orang terkasih di hari bahagia pun tak kalah membahagiakannya :)

24 Juni 2015

9 Juni 2015

Akhirnya Saya Sarjana!

Alhamdulillaahirobbil 'aalamiin... Hanya ucapan tersebut yang dapat menggambarkan betapa bersyukurnya saya saat ini. Jika mengingat kembali bagaimana proses pengerjaan skripsi saya yang begitu rumit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit, sangat mustahil jika saya mampu mengikuti wisuda untuk periode Juni. Awalnya, setelah menyelesaikan perkuliahan di semester tujuh, tepatnya di awal tahun ini, saya menemui dosen Pembimbing Akademik saya untuk konsultasi perihal tugas akhir yang akan saya kerjakan nanti. Beruntungnya saya karena dosen PA saya ini menawarkan diri untuk menjadi pembimbing utama tugas akhir saya. Jadilah saya mengambil skripsi tentang Aljabar-Koding yang sama sekali tidak saya mengerti sebab kuliahnya pun belum saya ambil.

Kurang lebih dua bulan saya (belajar dari nol) bimbingan skripsi dengan Pak Loeky, pembimbing utama sekaligus dosen PA saya. Dengan ikhlas dan sabar Pak Loeky meluangkan waktu dan tenaga untuk mengarahkan saya dalam menyusun proposal. Sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk tampil seminar pada tanggal 27 Maret. Di jurusan saya, waktu yang diberikan untuk melakukan seminar hanya pada hari Jumat, dari pukul 09.00 sampai pukul 12.00. Pada hari pelaksanaan seminar proposal, saya mendapat giliran kedua, yaitu dari pukul 09.45 sampai 10.25. Namun apa yang terjadi, waktu yang saya gunakan di luar batas kewajaran untuk orang-orang yang melaksanakan seminar proposal. Saya diserang banyak pertanyaan mengenai materi dasar, dan hampir semua pertanyaan dasar tersebut hanya mampu saya jawab dengan seulas senyum tipis. Analoginya, bagaikan mahasiswa jurusan Biologi yang tidak mampu menjelaskan secara lengkap bagaimana proses fotosintesis itu terjadi. Ya, hari itu saya tidak mampu menjelaskan dengan baik bagaimana keterkaitan ruang vektor, barisan, dan lapangan berhingga yang termuat di dalam skripsi saya. 

Dilibas saat seminar sebenarnya hal lumrah bagi mahasiswa di jurusan saya, namun bagi saya itu tidak wajar. Selama dua minggu saya mogok ngampus dan tidak melakukan apa-apa di rumah. Saya malu, trauma, frustasi, dan ingin nikah saja #lhaa. Tepat hari ke-14 pasca seminar proposal, Pak Loeky mengirimi saya pesan
Kenapa ya, anak bimbingan saya yang satu ini tiba-tiba malas konsul. Besok siang ke ruangan saya, ya.
Dengan perasaan malu akhirnya saya memberanikan diri untuk ke kampus. Saya merasa kotor tatkala berjalan menyusuri koridor dan ditatap oleh teman-teman yang mungkin merasa aneh karena saya baru muncul lagi. Bertemu dengan Pak Loeky rupanya membuat semangat saya kembali mencuat. Dia telah lupa dengan peristiwa yang menimpa saya dan kembali bersemangat melanjutkan pengerjaan skripsi saya. 

Hari berlalu minggu, minggu berlalu bulan, tapi tak kunjung selesai skripsi ini, begitupun dengan keberanian saya untuk kembali tampil pada seminar hasil. Teman seperjuangan saya, Asdar, memberikan saya batas waktu untuk seminar pada tanggal 22 Mei, sebab batas akhir pengumpulan berkas sidang yaitu pada tanggal 27 Mei. Berkat segala usaha, ketekunan, serta do'a yang tiap hari saya panjatkan, saya mampu menyelesaikan skripsi tepat pada pekan ketiga Mei. Surat kesiapan seminar, lembaran persetujuan, serta undangan seminar kembali saya siapkan pada hari Senin. Tapi apa yang terjadi, Pak Loeky tiba-tiba melarang saya untuk seminar dengan alasan masih ada yang harus ditambahkan dalam bab Hasil dan Pembahasan saya. Pupuslah sudah semangat yang menggebu-gebu ini. Saya batal seminar dan sudah pasti saya tidak dapat mengumpulkan berkas pada waktu yang ditentukan. 

Tepat hari Jumat, saya kembali menemui Pak Loeky untuk memperlihatkan skripsi yang telah saya ubah entah untuk keberapa kalinya. Ketika saya sedang menyalakan notebook, Pak Loeky membuka percapakan,

"apa kata orang tuanya rahmah pas gak jadi seminar hari ini?"
"tidak apa-apa pak, hehe"
"kalo mau, seminar saja hari senin. coba tanya pak Nur..."
"oh iya, pak".

Pak Nur memegang jabatan sebagai koordinator pelaksanaan seminar sekaligus sekretaris penguji skripsi saya. Setelah menyampaikan maksud bahwa saya ingin seminar pada hari Senin karena dikejar deadline, Pak Nur mengiyakan. Tetapi, kegembiraan saya tidak berlangsung lama. Saya kembali takut dan gelisah sebab harus seminar seorang diri, ditonton banyak dosen, ditonton banyak orang. Walaupun tertatih-tatih, saya berhasil melawan rasa takut saya untuk tampil kedua kalinya di depan orang-orang guna memaparkan hasil skripsi saya. 

Senin, 25 Mei 2015 - Seminar Matematika II

Dibantu oleh Asdar, saya mengumpulkan berkas map merah (sidang) sehari sebelum batas pengumpulan. Esok harinya, saya melihat teman-teman seperjuangan yang telah seminar hasil sibuk mondar-mandir jurusan untuk mengurus persiapan sidang. Sedangkan saya, saya diserang kemalasan untuk mengurus berbagai hal dan merasa bahwa Seminar Hasil adalah pencapaian terbaik saya. Beberapa hari berlalu, saya masih bermalas-malasan di rumah. Tanggal 5 Juni adalah tanggal yang ditetapkan oleh fakultas sebagai hari terakhir untuk melaksanakan ujian sidang. 

Juni hari pertama. Iseng ke Science Building, ternyata Surat Keputusan (SK) Sidang saya sudah keluar dari rektorat. Saya bingung. Berkas yang paling ditunggu-tunggu oleh teman-teman yang bakal sidang sudah saya terima, tapi di sisi lain saya belum mau untuk ujian lagi, belajar lagi, dan mengurus administrasi lagi. Saya pun bertanya ke Pak Suardi, pegawai fakultas yang paling akrab dengan mahasiswa,

"Pak, kalau saya tidak bisa ujian sampai tanggal 5, SK-nya bagaimana Pak?"
"Loh, kenapa pesimis sekali? Masih ada 4 hari, dek" (Pak Suardi terbilang masih muda, makanya lebih memilih memanggil adek kepada semua mahasiswa).
"Ngngng..."

Sesampainya di jurusan, saya diomeli oleh teman-teman seperjuangan sebab ingin menyia-nyiakan SK dan kesempatan selama beberapa hari ke depan. Sejak seminar hasil, saya memang berniat untuk istirahat dulu, lalu ujian sidang kapanpun selama pembayaran SPP belum dibuka, dan wisuda pada periode selanjutnya. Tetapi, setelah mencurahkan keinginan tersebut kepada teman-teman, saya habis dicerca dengan kalimat-kalimat yang mengatakan bahwa saya bodoh, tolol, dan sebagainya. Dari sekian banyak omelan, kalimat dari Ainun tiba-tiba membuat saya mempertimbangkan keputusan saya. Katanya, saya harus melakukan apapun yang dapat saya usahakan, kalau memang bukan rejeki saya untuk meraih gelar pada periode ini, pasti ada saja hambatan yang saya peroleh. Akhirnya, bergegaslah saya menemui Pak Loeky dan mengatakan bahwa saya ingin mengusahakan untuk sidang minggu ini. Pak Loeky mengizinkan, dengan catatan saya harus bekerja keras untuk memperbaiki beberapa pembuktian teorema dan membuat bahan presentasi dalam semalam. 

***

Malam sebelum sidang, saya tidak bisa tidur. Perasaan takut dan cemas menyelubungi saya. Sebelumnya, Asdar mendapat kesulitan saat ujian sidang; berkasnya ditahan oleh ketua penguji dan nilai sidangnya ditunda. Jadilah semalaman saya mencemaskan hal-hal buruk. 

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Detak jantung bergerak lebih hebat dari biasanya. Sejak pagi sampai waktu shalat jum'at tiba, saya terus mengulang materi dan membayangkan apa yang akan terjadi beberapa jam kemudian. Pukul 13.15. Saya sudah siap menampilkan bahan presentasi di dalam ruangan sidang yang ukurannya cukup sedang. Ketiga dosen penguji saya masuk, disusul Pak Loeky selaku pembimbing utama dan Bu Era sebagai pembimbing pertama. Prof. Amir yang notabene adalah ketua penguji, membuka ujian sidang dan mengatakan bahwa proses ujian ini akan dibagi sebanyak tiga sesi; presentasi, tanya jawab, dan penentuan nilai. Selama lima belas menit saya mempresentasikan semua bab dalam skripsi saya. Selanjutnya, sesi tanya jawab. Dengan wajah yang lumayan seram, Prof. Amir berkata, "cari spidol dan penghapus sekarang". Deg. Pertanyaan apa yang bakal saya terima, pikirku sembari berlari mencari spidol di ruang kelas. 

Sekembalinya di ruang sidang, saya diminta untuk menjelaskan salah satu Lemma dalam skripsi saya. Tiga puluh menit berselang. Seisi ruangan bingung. Lemma yang saya peroleh dari jurnal seorang peneliti rupanya memicu kebuntuan. Mau tak mau, waktu terus berlalu. Solusi dari Pak Loeky mulai diterima. Ada beberapa kalimat pada Lemma yang mesti diubah, begitupun dengan pembuktiannya. Dan beban itu tentu saja menjadi tugas saya, hiks. Selanjutnya, beberapa pertanyaan dari Prof. Amir kembali diberikan. Saya diberikan waktu untuk menjawabnya.

Tak ada yang lebih lega dari mendengarkan kalimat "baiklah, karena waktu untuk tahap kedua telah selesai, selanjutnya kita melangkah pada sesi penentuan nilai. Saudari Nur Rahmah dipersilakan meninggalkan ruangan sidang". Fiuhhh. Di luar ruangan, satu persatu teman seangkatan menyalami saya sembari berkata "cieeh S.Si". Beberapa menit kemudian, Pak Nurdin, salah satu dosen penguji, memanggil saya untuk masuk ke ruangan. Prof. Amir kembali memegang peran untuk mengumumkan nilai saya. Setelah melakukan shock therapy alias kebohongan dengan maksud mengerjai, Prof. Amir mengatakan bahwa pada tanggal 5 Juni 2015, saya dinyatakan lulus dan memperoleh gelar Sarjana Sains dengan nilai "Sangat Baik". 

Saya tersenyum. Dosen-dosen terkekeh dan mulai menikmati konsumsi yang disediakan. Sesungguhnya, saya benar-benar mensyukuri segala kelancaran dan kemudahan yang saya peroleh. Semua yang saya cemaskan tidak terjadi. Saya benar-benar bahagia. Saya akhirnya paham bahwa tidak ada yang sia-sia dari usaha dan do'a. Selamat tinggal, kampus. Terima kasih atas semua pembelajaran dan kenangan berharga selama 3,8 tahun ini. 

YEAY!!!

Nur Rahmah Makmur, S.Si

Kenalan pertama di kampus. Sahabat. Temen gosip. Temen seperjuangan sampai akhir. Asdar, S.Si

Asdar, Nita, Akra, Wawan (member Barongs) + Ilha, Yuli, Fafah (sohib-sohib sewaktu maba yang udah pindah jurusan dan kampus sejak semester tiga)

(Keong, Khatmi, Ninda) sahabat-sahabat sejak SMA yang juga sekampus tapi beda-beda jurusan. Lekas nyusul yaaa!

Lhya. Saya tidak pernah mendengar kabarnya dalam waktu yang lama dan tiba-tiba dia muncul... :(

the special one, kakak try.

9 Mei 2015

Cengeng

Saya termasuk orang yang sangat cengeng. Saat dengar lagu sedih, nangis. Tahu kalau ada yang marah atau kesal sama saya, nangis. Merasa terpojok dan tertinggal, nangis. Nonton drama korea tak usah ditanya. Banjir.

Akhir-akhir ini saya keseringan nangis. Entahlah, banyak hal yang sangat menguras emosi dan ketika mengingat beberapa scene serupa dari beberapa drama, saya malah mencari soundtrack-nya kemudian menikmatinya. Dan tangis saya pun pecah dan semakin terarah. Ckck. Saya juga bingung, mungkin karena saya orangnya berlebihan, saya selaluuuu mendambakan kisah-kisah miris layaknya drama dan kemudian bangga menjadi orang yang tersakiti namun tabah. Lha...

Sejak beberapa bulan yang lalu, saya dekat dengan seseorang--tidak terhubung aliran darah, tetapi selalu membuat saya ingin menjadi lebih baik, dalam belajar, dalam beribadah, serta menjalani kehidupan. Anak abege sih bilangnya kekasih #ciaat. Setiap harinya, komunikasi kami berjalan dengan baik. Tetapi dasar saya yang terinspirasi dengan banyak ftv dan drama, saya sering merumitkan percakapan dan berakhir ngambek ala-ala aktris utama. Tentu saja dia tidak paham dan malah merespon dengan hal serupa. Dia ikutan ngambek dan pada akhirnya saya yang mengeluarkan trik bujuk rayu ala-ala ftv. Kejadian ini terus berulang sampai ia tanggap kapan saya serius marah, dan kapan saya serius ingin mempraktekkan cerita drama. 

Menghadapi makhluk seperti saya tentu mengakibatkan eneg dan dongkol. Dan bodohnya, saya senang dan menikmati ketika saya jahat, bersalah, dan menjadi pemicu kerenggangan. Begitulah siklus yang saya alami. Saya cengeng karena sedih. Saya sedih karena saya marah. Saya marah karena kesal. Saya kesal atas perbuatan orang yang sebenarnya lebih dahulu kesal atas perbuatan saya. Tetapi, saya senang ketika cengeng. Saya merasa bahwa diri saya sebenarnya tidak cengeng.

yah, seperti itu........


mata sembab ketika ngampus. saya suka.

9 April 2015

Satu Beban Terlewati

Semester ini menjadi semester terberat saya selama perkuliahan, sepertinya. Berbulan-bulan saya mengerjakan proposal. Bolak-balik menemui dosen pembimbing. Buka materi ini, buka materi itu. Begadang berhari-hari. Terkadang lupa makan. Tak punya kesempatan dan ruang lagi untuk mengerjakan hal lain. Sebab saya sadar, saya bukanlah seseorang yang berotak cerdas. 

Tapi saya tetap optimis untuk wisuda pada periode Juni. Dengan modal nekat dan tekad, 27 Maret 2015 pada pukul 09.45 WITA saya melaksanakan seminar proposal. Akhirnya yah, Nuu....



Seminar proposal yang disepelekan oleh sebagian orang ternyata tidak sesepele yang saya kira. Kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi saya saat itu mungkin, berantakan. Ya, bahkan jika kepingan semangat yang hancur itupun disatukan kembali, hasilnya tidak akan seutuh seperti di awal. Selama dua minggu saya mengalami kegalauan, depresi, mogok kerja, dan frustasi. Meskipun begitu, sesekali saya menyempatkan diri untuk menengok folder "skripsi akooh" yang jika dengan melihatnya saja dapat menimbulkan trauma. 

Hari ini saya memberanikan diri untuk melihat nilai seminar saya di buku catatan dosen yang menjadi koordinator seminar saat itu. Ucapan syukur tak henti saya lafazkan saat meninggakan ruang dosen. Harapan dan semangat yang mulanya kecil kini berubah seketika. Saya mulai bangkit, mulai berbaik sangka, dan melihat tahapan selanjutnya sebagai sebuah tantangan. Sebab perjuangan masih berlanjut, masih ada seminar hasil dan ujian sidang. Yah, setidaknya satu beban telah terlewati. Tetap semangat ya, saya.

Wajah dipaksa senyum usai seminar :'(

3 Januari 2015

Ada Apa di Tahun Ini?

Tibalah masa di mana saya akhirnya berhadapan dengan salah satu fase wajib yang dialami seluruh mahasiswa Indonesia, yakni skripsi. Yap, sejak Desember kemarin, saya sudah terbebas dari segala bentuk perkuliahan dan kesibukan selama menjadi asisten lab. Meskipun IPK saya nilainya pas-pasan, saya kekeuh tidak akan mencoba untuk memperbaiki beberapa mata kuliah. Satu-satunya mata kuliah yang saya ulangi yaitu Statistika Matematika, yang awalnya D menjadi B-, huft.

Untuk menghadapi seminar skripsi/tesis di jurusan saya, kita diwajibkan untuk mengikuti Ujian Komprehensif dari lima bidang/lab; Aljabar, Analisis, Komputasi, Terapan, dan Statistik. Kelima lab ini masing-masing memiliki dosen penguji yang nantinya akan mengevaluasi sejauh mana materi yang telah dikuasai. Sampai saat ini, saya baru melulusi tiga lab dari semuanya, ckck. Trus kenapa berani bahas skripsi, Nuu?

Sekadar kalian tahu, saya memang tipikal orang yang terkadang melakukan sesuatu dengan sangat tidak beraturan. Pada saat pengumpulan KRS saja, yang lebih dahulu menandatangani KRS saya adalah dosen PA saya daripada saya sendiri. Iya, kebangetan kan? Nah, begitu juga dengan masalah skripsi. Dari jauh-jauh hari sebelum melulusi beberapa ujian kompre, saya sudah menemukan pembimbing skripsi-disertai-dengan-kebaikan-hati yang memberikan saya beberapa jurnal untuk penentuan judul. Meskipun begitu, saya masih saja mengalami kendala dalam pemilihan konsentrasi. 


Gambar di atas adalah beberapa target yang saya tempel di dinding kamar guna memotivasi saya setiap melihatnya. Namun, pemilihan materi dari skripsi yang sudah saya rencanakan sepertinya akan berubah. Dosen pembimbing yang sebelumnya saya ceritakan di atas memberikan saya materi yang lebih rumit.

“Seniormu sudah banyak yang ambil Aljabar,” katanya.
“Jadi, Pak?”
“Ambil Koding saja, ya. Nanti saya ajar.”

Dan inilah saya si mahasiswi paling sok jagoan sejagad raya, berani mengambil materi Teori Koding untuk skripsi, yang mata kuliahnya saja saya belum ambil :’(
                    
                                                                             ***

Sebagai mahasiswa semester akhir, saya tidak akan menuliskan resolusi atau daftar pencapaian yang harus terlaksana di tahun ini. Cukup dengan menyebutnya harapan, mungkin terdengar lebih ringan untuk seseorang yang otaknya pas-pasan seperti saya, hiks. Semoga dua lab yang tersisa dari ujian kompre dapat saya lalui dengan cepat, dan pengerjaan skripsi-yang-belum-jelas-ini dimudahkan serta dilancarkan.


Anyway, selamat menyambut tahun 2015, kalian! dan selamat menjadi calon wisudawan 2015 untuk saya! Aamiin..