9 Juni 2015

Akhirnya Saya Sarjana!

Alhamdulillaahirobbil 'aalamiin... Hanya ucapan tersebut yang dapat menggambarkan betapa bersyukurnya saya saat ini. Jika mengingat kembali bagaimana proses pengerjaan skripsi saya yang begitu rumit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit, sangat mustahil jika saya mampu mengikuti wisuda untuk periode Juni. Awalnya, setelah menyelesaikan perkuliahan di semester tujuh, tepatnya di awal tahun ini, saya menemui dosen Pembimbing Akademik saya untuk konsultasi perihal tugas akhir yang akan saya kerjakan nanti. Beruntungnya saya karena dosen PA saya ini menawarkan diri untuk menjadi pembimbing utama tugas akhir saya. Jadilah saya mengambil skripsi tentang Aljabar-Koding yang sama sekali tidak saya mengerti sebab kuliahnya pun belum saya ambil.

Kurang lebih dua bulan saya (belajar dari nol) bimbingan skripsi dengan Pak Loeky, pembimbing utama sekaligus dosen PA saya. Dengan ikhlas dan sabar Pak Loeky meluangkan waktu dan tenaga untuk mengarahkan saya dalam menyusun proposal. Sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk tampil seminar pada tanggal 27 Maret. Di jurusan saya, waktu yang diberikan untuk melakukan seminar hanya pada hari Jumat, dari pukul 09.00 sampai pukul 12.00. Pada hari pelaksanaan seminar proposal, saya mendapat giliran kedua, yaitu dari pukul 09.45 sampai 10.25. Namun apa yang terjadi, waktu yang saya gunakan di luar batas kewajaran untuk orang-orang yang melaksanakan seminar proposal. Saya diserang banyak pertanyaan mengenai materi dasar, dan hampir semua pertanyaan dasar tersebut hanya mampu saya jawab dengan seulas senyum tipis. Analoginya, bagaikan mahasiswa jurusan Biologi yang tidak mampu menjelaskan secara lengkap bagaimana proses fotosintesis itu terjadi. Ya, hari itu saya tidak mampu menjelaskan dengan baik bagaimana keterkaitan ruang vektor, barisan, dan lapangan berhingga yang termuat di dalam skripsi saya. 

Dilibas saat seminar sebenarnya hal lumrah bagi mahasiswa di jurusan saya, namun bagi saya itu tidak wajar. Selama dua minggu saya mogok ngampus dan tidak melakukan apa-apa di rumah. Saya malu, trauma, frustasi, dan ingin nikah saja #lhaa. Tepat hari ke-14 pasca seminar proposal, Pak Loeky mengirimi saya pesan
Kenapa ya, anak bimbingan saya yang satu ini tiba-tiba malas konsul. Besok siang ke ruangan saya, ya.
Dengan perasaan malu akhirnya saya memberanikan diri untuk ke kampus. Saya merasa kotor tatkala berjalan menyusuri koridor dan ditatap oleh teman-teman yang mungkin merasa aneh karena saya baru muncul lagi. Bertemu dengan Pak Loeky rupanya membuat semangat saya kembali mencuat. Dia telah lupa dengan peristiwa yang menimpa saya dan kembali bersemangat melanjutkan pengerjaan skripsi saya. 

Hari berlalu minggu, minggu berlalu bulan, tapi tak kunjung selesai skripsi ini, begitupun dengan keberanian saya untuk kembali tampil pada seminar hasil. Teman seperjuangan saya, Asdar, memberikan saya batas waktu untuk seminar pada tanggal 22 Mei, sebab batas akhir pengumpulan berkas sidang yaitu pada tanggal 27 Mei. Berkat segala usaha, ketekunan, serta do'a yang tiap hari saya panjatkan, saya mampu menyelesaikan skripsi tepat pada pekan ketiga Mei. Surat kesiapan seminar, lembaran persetujuan, serta undangan seminar kembali saya siapkan pada hari Senin. Tapi apa yang terjadi, Pak Loeky tiba-tiba melarang saya untuk seminar dengan alasan masih ada yang harus ditambahkan dalam bab Hasil dan Pembahasan saya. Pupuslah sudah semangat yang menggebu-gebu ini. Saya batal seminar dan sudah pasti saya tidak dapat mengumpulkan berkas pada waktu yang ditentukan. 

Tepat hari Jumat, saya kembali menemui Pak Loeky untuk memperlihatkan skripsi yang telah saya ubah entah untuk keberapa kalinya. Ketika saya sedang menyalakan notebook, Pak Loeky membuka percapakan,

"apa kata orang tuanya rahmah pas gak jadi seminar hari ini?"
"tidak apa-apa pak, hehe"
"kalo mau, seminar saja hari senin. coba tanya pak Nur..."
"oh iya, pak".

Pak Nur memegang jabatan sebagai koordinator pelaksanaan seminar sekaligus sekretaris penguji skripsi saya. Setelah menyampaikan maksud bahwa saya ingin seminar pada hari Senin karena dikejar deadline, Pak Nur mengiyakan. Tetapi, kegembiraan saya tidak berlangsung lama. Saya kembali takut dan gelisah sebab harus seminar seorang diri, ditonton banyak dosen, ditonton banyak orang. Walaupun tertatih-tatih, saya berhasil melawan rasa takut saya untuk tampil kedua kalinya di depan orang-orang guna memaparkan hasil skripsi saya. 

Senin, 25 Mei 2015 - Seminar Matematika II

Dibantu oleh Asdar, saya mengumpulkan berkas map merah (sidang) sehari sebelum batas pengumpulan. Esok harinya, saya melihat teman-teman seperjuangan yang telah seminar hasil sibuk mondar-mandir jurusan untuk mengurus persiapan sidang. Sedangkan saya, saya diserang kemalasan untuk mengurus berbagai hal dan merasa bahwa Seminar Hasil adalah pencapaian terbaik saya. Beberapa hari berlalu, saya masih bermalas-malasan di rumah. Tanggal 5 Juni adalah tanggal yang ditetapkan oleh fakultas sebagai hari terakhir untuk melaksanakan ujian sidang. 

Juni hari pertama. Iseng ke Science Building, ternyata Surat Keputusan (SK) Sidang saya sudah keluar dari rektorat. Saya bingung. Berkas yang paling ditunggu-tunggu oleh teman-teman yang bakal sidang sudah saya terima, tapi di sisi lain saya belum mau untuk ujian lagi, belajar lagi, dan mengurus administrasi lagi. Saya pun bertanya ke Pak Suardi, pegawai fakultas yang paling akrab dengan mahasiswa,

"Pak, kalau saya tidak bisa ujian sampai tanggal 5, SK-nya bagaimana Pak?"
"Loh, kenapa pesimis sekali? Masih ada 4 hari, dek" (Pak Suardi terbilang masih muda, makanya lebih memilih memanggil adek kepada semua mahasiswa).
"Ngngng..."

Sesampainya di jurusan, saya diomeli oleh teman-teman seperjuangan sebab ingin menyia-nyiakan SK dan kesempatan selama beberapa hari ke depan. Sejak seminar hasil, saya memang berniat untuk istirahat dulu, lalu ujian sidang kapanpun selama pembayaran SPP belum dibuka, dan wisuda pada periode selanjutnya. Tetapi, setelah mencurahkan keinginan tersebut kepada teman-teman, saya habis dicerca dengan kalimat-kalimat yang mengatakan bahwa saya bodoh, tolol, dan sebagainya. Dari sekian banyak omelan, kalimat dari Ainun tiba-tiba membuat saya mempertimbangkan keputusan saya. Katanya, saya harus melakukan apapun yang dapat saya usahakan, kalau memang bukan rejeki saya untuk meraih gelar pada periode ini, pasti ada saja hambatan yang saya peroleh. Akhirnya, bergegaslah saya menemui Pak Loeky dan mengatakan bahwa saya ingin mengusahakan untuk sidang minggu ini. Pak Loeky mengizinkan, dengan catatan saya harus bekerja keras untuk memperbaiki beberapa pembuktian teorema dan membuat bahan presentasi dalam semalam. 

***

Malam sebelum sidang, saya tidak bisa tidur. Perasaan takut dan cemas menyelubungi saya. Sebelumnya, Asdar mendapat kesulitan saat ujian sidang; berkasnya ditahan oleh ketua penguji dan nilai sidangnya ditunda. Jadilah semalaman saya mencemaskan hal-hal buruk. 

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Detak jantung bergerak lebih hebat dari biasanya. Sejak pagi sampai waktu shalat jum'at tiba, saya terus mengulang materi dan membayangkan apa yang akan terjadi beberapa jam kemudian. Pukul 13.15. Saya sudah siap menampilkan bahan presentasi di dalam ruangan sidang yang ukurannya cukup sedang. Ketiga dosen penguji saya masuk, disusul Pak Loeky selaku pembimbing utama dan Bu Era sebagai pembimbing pertama. Prof. Amir yang notabene adalah ketua penguji, membuka ujian sidang dan mengatakan bahwa proses ujian ini akan dibagi sebanyak tiga sesi; presentasi, tanya jawab, dan penentuan nilai. Selama lima belas menit saya mempresentasikan semua bab dalam skripsi saya. Selanjutnya, sesi tanya jawab. Dengan wajah yang lumayan seram, Prof. Amir berkata, "cari spidol dan penghapus sekarang". Deg. Pertanyaan apa yang bakal saya terima, pikirku sembari berlari mencari spidol di ruang kelas. 

Sekembalinya di ruang sidang, saya diminta untuk menjelaskan salah satu Lemma dalam skripsi saya. Tiga puluh menit berselang. Seisi ruangan bingung. Lemma yang saya peroleh dari jurnal seorang peneliti rupanya memicu kebuntuan. Mau tak mau, waktu terus berlalu. Solusi dari Pak Loeky mulai diterima. Ada beberapa kalimat pada Lemma yang mesti diubah, begitupun dengan pembuktiannya. Dan beban itu tentu saja menjadi tugas saya, hiks. Selanjutnya, beberapa pertanyaan dari Prof. Amir kembali diberikan. Saya diberikan waktu untuk menjawabnya.

Tak ada yang lebih lega dari mendengarkan kalimat "baiklah, karena waktu untuk tahap kedua telah selesai, selanjutnya kita melangkah pada sesi penentuan nilai. Saudari Nur Rahmah dipersilakan meninggalkan ruangan sidang". Fiuhhh. Di luar ruangan, satu persatu teman seangkatan menyalami saya sembari berkata "cieeh S.Si". Beberapa menit kemudian, Pak Nurdin, salah satu dosen penguji, memanggil saya untuk masuk ke ruangan. Prof. Amir kembali memegang peran untuk mengumumkan nilai saya. Setelah melakukan shock therapy alias kebohongan dengan maksud mengerjai, Prof. Amir mengatakan bahwa pada tanggal 5 Juni 2015, saya dinyatakan lulus dan memperoleh gelar Sarjana Sains dengan nilai "Sangat Baik". 

Saya tersenyum. Dosen-dosen terkekeh dan mulai menikmati konsumsi yang disediakan. Sesungguhnya, saya benar-benar mensyukuri segala kelancaran dan kemudahan yang saya peroleh. Semua yang saya cemaskan tidak terjadi. Saya benar-benar bahagia. Saya akhirnya paham bahwa tidak ada yang sia-sia dari usaha dan do'a. Selamat tinggal, kampus. Terima kasih atas semua pembelajaran dan kenangan berharga selama 3,8 tahun ini. 

YEAY!!!

Nur Rahmah Makmur, S.Si

Kenalan pertama di kampus. Sahabat. Temen gosip. Temen seperjuangan sampai akhir. Asdar, S.Si

Asdar, Nita, Akra, Wawan (member Barongs) + Ilha, Yuli, Fafah (sohib-sohib sewaktu maba yang udah pindah jurusan dan kampus sejak semester tiga)

(Keong, Khatmi, Ninda) sahabat-sahabat sejak SMA yang juga sekampus tapi beda-beda jurusan. Lekas nyusul yaaa!

Lhya. Saya tidak pernah mendengar kabarnya dalam waktu yang lama dan tiba-tiba dia muncul... :(

the special one, kakak try.

2 komentar:

jejen mengatakan... Balas

selamat ya nona sudah sarjana.. semoga bisa terus berkarya

Nur Rahmah Makmur mengatakan... Balas

@jejen: Makasih yaa, aamiin