31 Oktober 2014

21

Hmm baiklah. Sebelum bulan Oktober berlalu, izinkan saya untuk menuliskan satu dua paragraf perihal satu hari yang selalu menjadi dan dibuat beda dalam hidup saya, yakni hari ulang tahun.

Ketika jam tepat menunjukkan pukul 00:00, nada dering pertanda sebuah pesan masuk berbunyi. 

"Selamat ulang tahun, Nur Rahmah Makmur."

Ya, pesan ringkas itu darinyaseseorang di luar sana yang begitu irit dalam berucap, pun merangkai kata. Keharuan pasca membaca pesan darinya tiba-tiba terhenti dengan adanya panggilan masuk. Belum sempat kujawab dengan halo, kalimat selamat ulang tahun kembali terucap darinya. Hahaha, saya tertawa dan kembali menahan haru.

Dan kejutan darinya belum terhenti sampai disitu...


Sepulang dari kampus, alangkah terkejutnya saya ketika mendapati Lhya, kak Iyda, plus kakak Uci (kakak ipar saya) bersorak "Selamat ulang tahun" dengan kencang sambil membawa kue berlilin dan balon yang berwarna-warni. Lhya dan kak Iyda adalah dua sohib saya di organisasi kepalangmerahan sewaktu SMA. Selang beberapa jam kemudian, Acik, Khatmi, Keong, dan Nindasahabat sejak SMA yang setiap tahunnya selalu bersusah-payah untuk memberi kejutan di rumah tapi selalu gagal, kembali meniatkan raganya untuk ke rumah dengan lima buah cupcake (kue mangkok) serta kantongan yang berisi jilbab.

Tepat di Sabtu sore, dengan wajah kumel baru bangun, belum cuci muka, apalagi sikat gigi, teman se-genk saya di kampus menghambur masuk ke rumah dengan sangat gaduh. Mereka menghadiahkan saya sebuah tirai kamar horor layaknya tirai kamar praktek dukun, ckck. Malam menyambut, kami bersembilan melanjutkan aktivitas dengan bermain kartu remi dan UNO hingga subuh. Ya.. kami menghabiskan Sabtu hingga Minggu waktu itu dengan bertingkah gila-gilaan.


Akhirnya, seperti itulah orang-orang di sekitar saya memperingati momen pergantian tahun saya yang ke-21. Selamat ulang tahun, Nuu. Berbahagialah.

1 Oktober 2014

September Ceria

"...September ceria.. September ceria..
milik kita bersama.."

September ceria itu cuma milik Vina Panduwinata, pikirku selama ini. Karena petikan lagu tersebut, orang-orang akan menambahkan kata "ceria" setiap kali mendengar kata "September". Sama seperti orang kebanyakan, kakak ketiga saya juga melakukan hal serupa. Setiap kali bulan ini tiba, dia menulis status "September Ceria" di jejaring sosialnya dan kembali mengenang momen pernikahannya yang akhirnya menghadirkan atmosfer keceriaan. 

Tapi selama ini, September bagi saya tidak lebih dari bulan yang hanya mengingatkan saya dengan Oktober, bulan kelahiran saya. Karenanya, saya jarang mereka-reka bagaimana dan berapa banyak keceriaan yang akan saya peroleh di bulan tersebut. 

Entah bagaimana, September kali ini berbeda. Secara tiba-tiba, perasaan-yang-entah-apa-namanya ini menyusup tak karuan. Tak mau tahu siang ataupun malam, saya menghabiskan waktu dengan mengecek sekaligus menunggu pesan dari... mu(?) hahaha. Dan pada akhirnya, entah siapa yang memulai pertama; entah saya, entah kamu, perasaan ini bertemu juga di akhir kisah. 

Ya, di pekan ketiga September, rasa yang kupikir berbatas itu akhirnya berbalas. Terima kasih padamu yang telah membuat September ini benar-benar ceria.