23 Februari 2016

Jatuh di Selokan

Sore tadi, saya kembali menorehkan kisah apes di buku perjalanan hidup saya. Suasana lorong yang cerah pasca Makassar diguyur hujan menyambut saya dan Kak Try yang baru saja tiba. Tidak ada firasat buruk di kepala saya kecuali dugaan akan berpapasan dengan kakak ketiga saya yang mungkin saja juga akan tiba di rumah. “Sampe sini mo nah,” ucap Kak Try. “Okay,” jawabku sambil mendaratkan kaki kanan disusul dengan kaki kiri tanpa melihat ke arah bawah. BYURRR!!! “HUAAAAAAAAAA,” teriakku dengan kencang. Kak Try berbalik. “Kenapa ko bisa jatuh?” tanyanya terbata-bata sambil tertawa. “Menurut nganaa?” balasku dalam hati.

Masih sambil cekikikan, dia menarikku hingga berpijak di darat. Celana yang basah dan berbau hingga lutut, kaki yang cemong, dan… eit, sepatuku yang kiri lenyap. Saya merengek sambil loncat-loncat. Anak kecil yang saat itu sedang bermain di sekitar mengerumuni saya berharap mendapatkan tontonan keren. Saya masih loncat-loncat. Kak Try panik sambil tertawa. Dia membuka sepatunya, menggulung celananya, dan meraih sepatu saya hanya dengan mencelupkan sebelah kaki. Sial. Kenapa dia tidak basah seperti saya? Huh.

Sepatu Cinderella cemong sudah lengkap, tetapi saya masih merengek. Saya marah dengan Kak Try yang memasang wajah tidak bersalah sebab sudah memarkirkan motor di pinggir selokan. Saya jatuh layaknya peserta Benteng Takeshi yang ingin meloncati tantangan sumur maut >.<

Dari tempat kejadian perkara, saya meninggalkan jejak kaki berwarna hitam menuju rumah. Setibanya di rumah, saya disambut pertanyaan “kenapa ki’ tante Nunu?” dari ponakan yang disusul dengan adegan menutup hidung. Rasa malu, marah, kesal, teraniaya, merasa bau, semuanya tumpah menjadi titik-titik air mata tatkala saya merendam celana yang baru saja menjadi korban peristiwa celaka tadi.

“Sudah jatuh tertimpa tangga beserta tukang-tukangnya” merupakan peribahasa yang sesuai untuk kejadian yang baru saja saya alami. Miris saja untuk seseorang berusia 22 tahun seperti saya harus terjun di selokan tepat di depan si do’i, dan ditertawai pula huhuhu.

I know you so well :"

---

Ponselku berbunyi lagi. Ada pesan masuk dari Kak Try. Tidak akan kubalas.