9 Mei 2015

Cengeng

Saya termasuk orang yang sangat cengeng. Saat dengar lagu sedih, nangis. Tahu kalau ada yang marah atau kesal sama saya, nangis. Merasa terpojok dan tertinggal, nangis. Nonton drama korea tak usah ditanya. Banjir.

Akhir-akhir ini saya keseringan nangis. Entahlah, banyak hal yang sangat menguras emosi dan ketika mengingat beberapa scene serupa dari beberapa drama, saya malah mencari soundtrack-nya kemudian menikmatinya. Dan tangis saya pun pecah dan semakin terarah. Ckck. Saya juga bingung, mungkin karena saya orangnya berlebihan, saya selaluuuu mendambakan kisah-kisah miris layaknya drama dan kemudian bangga menjadi orang yang tersakiti namun tabah. Lha...

Sejak beberapa bulan yang lalu, saya dekat dengan seseorang--tidak terhubung aliran darah, tetapi selalu membuat saya ingin menjadi lebih baik, dalam belajar, dalam beribadah, serta menjalani kehidupan. Anak abege sih bilangnya kekasih #ciaat. Setiap harinya, komunikasi kami berjalan dengan baik. Tetapi dasar saya yang terinspirasi dengan banyak ftv dan drama, saya sering merumitkan percakapan dan berakhir ngambek ala-ala aktris utama. Tentu saja dia tidak paham dan malah merespon dengan hal serupa. Dia ikutan ngambek dan pada akhirnya saya yang mengeluarkan trik bujuk rayu ala-ala ftv. Kejadian ini terus berulang sampai ia tanggap kapan saya serius marah, dan kapan saya serius ingin mempraktekkan cerita drama. 

Menghadapi makhluk seperti saya tentu mengakibatkan eneg dan dongkol. Dan bodohnya, saya senang dan menikmati ketika saya jahat, bersalah, dan menjadi pemicu kerenggangan. Begitulah siklus yang saya alami. Saya cengeng karena sedih. Saya sedih karena saya marah. Saya marah karena kesal. Saya kesal atas perbuatan orang yang sebenarnya lebih dahulu kesal atas perbuatan saya. Tetapi, saya senang ketika cengeng. Saya merasa bahwa diri saya sebenarnya tidak cengeng.

yah, seperti itu........


mata sembab ketika ngampus. saya suka.