20 Oktober 2013

Ketika Usia Menapaki Angka 20

15 Oktober 2013

1. Kusambut hari pagi dengan terlalu dini. Bukan. Bukan karena saya ada kuliah pagi. Melainkan gemuruh takbir dari corong masjid terdekat membuat tubuh lebih cepat beranjak dari biasanya. Selain itu, hari ini adalah hari yang istimewa. Pada tanggal dan bulan ini, hari kelahiran saya telah terulang sebanyak dua puluh kali. Meskipun bahagia, ada cemas yang menuntunku untuk segera menuntaskan hari ini.

Dalam perjalanan ke masjid, kutengok ponselku yang tak henti-hentinya berdering oleh nada notifikasi dari beberapa jejaring sosial. Serangkaian ucapan dan do'a dari mereka—orang-orang terkasih, membuatku gagap didekap perasaan haru yang amat teramat sangat. 

Tiba di rumah, ucapan "selamat ulang tahun" kembali dilayangkan saudara dan keluarga. Sebagian dari mereka tak menyangka bahwa usia saya sudah sebanyak ini. Sudah setua ini.

Bertepatan dengan terdengarnya kumandang adzan maghrib, saya kedatangan beberapa tamu. Auliah, Yulia, Jihan, Ilha, Nita, Ipul, Tirta, Dayat, Ade, dan Wawan meramaikan kediamanku. Beberapa dari mereka adalah teman akrab di jurusan, kenalan baik dari fakultas ekonomi, dan sisanya mahasiswa kampus tetangga, haha. Entah bagaimana mereka mempersiapkannya, sekembalinya saya dari mengambil piring dan sebagainya, sepiring "buras/burasa" telah bertengger sempurna dengan lilin-lilin di atasnya. 

ciyan, kue ultahnya Nunuu :))

batua raya geger akibat suara tawa mereka -...-


2. Sepulangnya beberapa kawan tadi, rumah kembali sepi dan saya memutuskan untuk membalas beberapa ucapan di twitter hingga larut. Ah ya, ketika membuka dasbor blog, saya menemukan sebuah postingan dari seorang sahabat, saudara, sekaligus seseorang yang selama sebulan lebih ini membuat saya galau karena kesalahpahaman :p Hei, Cupsky.. saya nangis membaca tulisan INI x))

Akhirnya saya memberanikan diri untuk menyapanya di line. Dia membalasnya, dan suasana akrab kembali hadir di perbincangan kami. Tepat pukul 00.00, percakapan harus terhenti dikarenakan ada keperluan mendesak yang harus dia kerjakan.

16 Oktober 2013

3. Beberapa detik setelah membalas pesan terakhir Cupsky, Afifah menghubungi saya. Pasti ingin memberikan ucapan, pikirku.

"Nuu, bisa ka' minta tolong?," sambut Afifah dengan nada suara sedih.
"Iye, kenapa Pip?"
"Percaya ko, di Makassar ka' sekarang. Ada ka' di depan rumahmu." (Afifah mahasiswi UMY, dan setahu saya dia masih berada di Jogja)
"Astaga, kenapa bisa? Terus, mauko apa?" *masih bingung*
"Nuuuuuu, bukakanka' pagaaaar... mauka numpang pipiiiis," ucapnya semakin sedih.

Segeralah saya keluar rumah, dan... AFIFAH BENAR-BENAR ADA. Bukannya membuka pagar, saya malah meninggalkannya seorang diri di sana. Kemudian saya naik ke lantai atas, mengintip dari jendela, barangkali masih ada beberapa orang lagi yang tak terlihat. Setelah beberapa menit saya tinggal, hasilnya nihil. Afifah masih setia di depan, memasang tampang sedih, dan saya masih sangat sangat tidak mengerti.

Usai buang air kecil, dengan wajah polosnya Afifah menyapa saya. Lalu dari kejauhan, tampak Wantos dan Lhya membawa obor lilin besar sambil cekikikan. Naik motor bertiga, bertamu pukul dua belas malam, dan mereka masih bisa cekikikan T-T

datang, duduk, bajak status :"

Perlu kalian ketahui, selain bersama Cupsky, saya juga terlibat kesalahpahaman bersama mereka. Dan selama seharian penuh, saya memang tidak memperoleh ucapan apa-apa dari mereka. Makanya, Lhya sempat berucap, "ge-er ko pasti bakal dikasi ucapan sama kita, toh.... ." Duh.........

Album kumpulan lagu Banda Neira, dari Oxapisi (teman Cupsky di Semarang) :')


Benda di sebelah kiri pada gambar tersebut adalah sebuah "buku manis kumpulan tulisan dan gambar sejak tahun 2008" yang ditulis tangan oleh mereka—Abdul Maghfir Zakir (Cupsky), Wahyu Wardianto S. (Wantos), Nur Awaliah (Lhya), Afifah Islamiyah (Afifah), dan Nur Aisa Pratiwi (Aiyy), sahabat-sahabat saya di organisasi Palang Merah SMA. Masih di lembar ketiga, rasanya saya sudah ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi karena ulah dari ketiga tamu tak diundang ini, akhirnya saya jadi gagal-cedih :((

4. Sahabat saya yang bernama Amsky, (bisa dibaca di sini), akhirnya berkunjung ke rumah. Dia membawa banyak cerita usai mengikuti student exchange di negara Kangguru. Karena kepulangannya ternyata dipercepat, ia mengira jika tidak sempat memberikan ucapan. Maka ia menyiapkan gambar ini. 

aaaaak, Amskyyy :*

buku dan kartu ucapan UNYU! from Aussie

18 Oktober 2013

5. Seharian ini saya berseliweran di kampus mengurus berbagai macam keperluan. Mulai dari persuratan pelantikan salah satu organisasi, mid test Kalkulus Variasi, mempertanyakan masalah kehadiran di mata kuliah Optimasi karena bolos kuliah pengganti, dan rapat yang menguras banyak pikiran. Selama rapat, saya ditemani oleh Lhya dan Afifah yang kegirangan nongkrong di Sospol :)) Usai maghrib, kami meninggalkan kampus lalu bertemu Phye dan melampiaskan kepenatan. Saya tak menyangka, lagi-lagi saya dikejutkan dengan kedatangan sahabat-sahabat kelas XII jaman SMA yang hadir dengan membawa sekotak kue dan siluet ala-ala cindera mata PAS MANTAB :'3


Keong, teman sebangku selama dua tahun di SMA :*

Acik - Nunuu - Keong - Afifah - Phye - Lhya

Thankyouuu Acik Khatmi Ninda Keong *kecup*

19 Oktober 2013

6. Hari ini saya mengikuti acara pelantikan pengurus FLP di kampus sejak pagi. Saat acara selesai, saya menemui Riza dan Ainun untuk mengajak pulang bersama. Rupanya mereka berdua sudah ada janji katanya. Sebenarnya ini sangat aneh, mengingat Riza yang selama ini hanya mempunyai dua alasan jika ingin pulang cepat dari kampus, "mau nyuci atau ngajar" :D Ya sudah, saya memutuskan untuk pulang lebih awal. Sorenya, saya dibangunkan oleh Bapak, katanya "ada temanmu datang, LAGI". Oh, tidak. 

Auliah, Ainun, Riza, Nunuu, Nita, Ilha

Mereka berlima adalah sahabat-sahabat saya di kampus. Sebenarnya masih ada Ulfah dan Yulia, tapi entah, mungkin ada kesibukan lain. Oh ya, kue-enyak yang mereka bawa dibuat oleh si Riza MCI (Master Chef Indonesia). Dia sangat mahir dalam hal memasak, tapi ya gitudeh, anaknya agak lemot :v

cermin dan kartu ucapan yang zzz beudh -.-


Selamat Ulang Tahun, Nur Rahmah Makmur. Semoga keimanan, kebaikan, kesejahteraan, keselamatan, kesehatan, kesuksesan, kelengkapan harapan, serta kebahagiaan selalu menjagamu. Terima kasih untuk segala do'a, ucapan, serta berbagai bentuk pemberian yang kalian bubuhkan. Pada semesta raya aku pun meminta, kiranya kebahagiaan serta kesehatan juga dan selalu menyertai kalian. :')

24 September 2013

Ketika Kau Lupa

Kau akrab dengan lupa, entah sejak kapan. Kalian berteman baik, sama halnya ketika kita memutuskan untuk berbagi obrolan yang panjang. Berisik. Berbagai tajuk sering kita hadirkan, dari yang sangat sederhana hingga yang paling ruwet; mengenai masa depan, misalnya. Ah, itu kesukaanku. 

Ada yang bilang, teman baik tak banyak tanya. Namun, percakapan yang menggantungkan banyak tanda tanya selama ini akhirnya membantah pendapat tersebut. Aku gemar bertanya, dan kau tak bosan-bosannya menjawab. Karena teman baik akan selalu mengingatkan sekaligus mudah merasa bosan, maka jangan segan untuk mengingatkan jika kau bosan.

Kukira percakapan kita selama ini seharusnya lebih berat dibandingkan dengan ringannya kesalahpahaman. Tapi apa boleh buat, ini bukan pertama kalinya kau memaklumkan tingkah kekanak-kanakan seseorang yang selama ini menganggapmu lebih dari saudara. Anggap saja ini adalah proses baginya untuk terus berintrospeksi demi menyeimbangkan logika dan perasaannya.

Konon katanya, manusia ditakdirkan terjebak dalam dunia. Termasuk dengan ketidak berdayaannya ketika ditumpahkan berbagai prasangka. Tertipu oleh rutinitas, menjumpai kesibukan baru, dan cenderung memutuskan ikatan.

Kau akrab dengan lupa, entah sejak kapan. Tatkala kekecewaan menghampiri dan kau memilih untuk lupa, tenang saja. Akan ada kenangan yang mengingatkanmu bahwa sebelum lupa, kau berteman baik dengannya.

Makassar, 2013
yang tak henti-hentinya diliputi rasa sesal

Tahun Ketiga

Tahun ini adalah tahun ketiga di mana saya masih berstatus sebagai mahasiswa. Tak ada perubahan yang mencolok, cukup adik-adik tingkat yang semakin bertambah serta minimnya waktu meski itu hanya untuk berleyeh-leyeh di kelas. Pada pekan pertama dan kedua saya memulai rutinitas di kampus, saya sampai terkejut ketika menghadapi jadwal kuliah dan agenda rapat di berbagai tempat berbenturan. Tidak hanya itu, tugas berseliweran berbanding lurus dengan isi kepala yang juga awut-awutan.

Nah, di semester ini saya mengambil sebuah mata kuliah wajib yang bernama Pengantar Analisis Real. Dengar-dengar dari beberapa senior, mata kuliah tersebut merupakan mata kuliah yang paling sulit dimengerti oleh mahasiswa jurusan Matematika. Salah seorang senior yang lumayan pandai saja sampai berujar, "Mengapa kita harus belajar analisis real?". Entahlah, kak.

Untuk mata kuliah yang satu ini, saya sampai berunding bersama teman terdekat untuk menentukan kelas terbaik sekaligus mengompakkan teman-teman lainnya yang juga menjadi penghuni kelas kami. Pertemuan pertama berjalan dengan rumit namun tetap lancar. Di pertemuan selanjutnya, ketika sang ketua kelas memberikan absen, nama saya menghilang dan secara sepihak dipindahkan ke kelas lain. Dengan alasan agar setiap kelas berimbang jumlahnya, keluhan saya pada staf tata usaha tak dihiraukan. Saya tidak tahu apakah ini merupakan pengaplikasian dari materi permutasi apa tidak. Jika ya, oh malangnya diri ini.

Sebagai contohnya, soal Analisis Real yang biasa kami singkat dengan sebutan Aril, seperti berikut: Mengapa 1+1=2 merupakan sebuah pernyataan yang benar? Dan, soal tersebut harus dijawab dengan pembuktian, teorema, penyangkal, dan semacamnya. Bukan main. Kini saya tahu, mengapa Aril yang selalu diperbincangkan, mengapa Aril yang selalu dipermasalahkan, mengapa Aril...

Saya pernah membaca beberapa kutipan, dan favorit saya adalah kutipan dari M. Anis Matta,

Jika cinta adalah matematika
maka yang mencintai kita akan
mengalikan kebahagiaan sampai tak hingga
membagi kesedihan hingga tak berarti
menambah keyakinan hingga utuh
mengurang keraguan hingga habis...

Jika cinta adalah matematika, maka satu ditambah satu tidak hanya menghasilkan dua, melainkan tiga, empat, dan seterusnya.. heheu ~ Nunuu, anti Analisis Real


mahasiswa tahun ketiga.
Riza - Nunuu - Ainun - Nita

22 September 2013

Jarang Menulis

Hampir tiga pekan saya tidak mengunjungi blog ini. Berbagai kesibukan di kampus menjadi kendalanya. Perkuliahan, kepanitiaan, kepengurusan di beberapa organisasi, oh... sungguh tega merenggut waktu luang saya. Setiap hari saya selalu dihantui rasa bersalah karena seringkali mengabaikan kesempatan untuk menulis, apapun itu. Padahal, inspirasi datang dan pergi hanya dalam hitungan detik.

Ah ya, sebenarnya faktor lain mengapa saya jarang menyambangi blog ini dikarenakan notebook yang telah mendampingi saya selama empat tahun terakhir ini telah uzur dan tidak dapat digunakan lagi. Untung saja, beberapa data penting dan drama korea berhasil diselamatkan. 

terima kasih karena kau setia kudekap
tatkala sunyi mencercap
terima kasih karena kau membuatku mengungkap
segala hal yang tercekat

terima kasih
terima kasih


Sebab perpisahan adalah kepastian, dan kesibukan bukan sebuah alasan #nahloh

Makassar, 22 September 2013

5 September 2013

Selamat Berjuang, Amsky.

Namanya Rahmawati Nasir. Dia merupakan murid pindahan di kelas saya saat saya menginjak kelas 3 SD. Karena sebagian besar guru di sekolah memanggil saya Rahmah, maka sejak kedatangan Rahma, mereka agak kesusahan untuk membedakan nama saya dengan namanya. Saya masih ingat jelas ketika salah seorang guru harus memanggil saya Rahma 1 dan Rahma 2 untuk Rahma sendiri. Oh, betapa membingungkannya kami ini.

Beberapa bulan kemudian, secara kebetulan saya dan Rahma menempati tempat kursus yang sama. Tempat kursus tersebut menyediakan kursus sempoa dan Bahasa Inggris untuk anak seusia kami. Saya memilih untuk belajar sempoa sedangkan Rahma, entah dia mengambil keduanya atau hanya kursus Bahasa Inggris. Yang pasti, dia pernah menjadi perantara antara saya dengan teman kursus Bahasa Inggrisnya untuk saling berbalas surat cin*a #doh. 

saya dan Rahma saat perkemahan Sekolah Dasar

Bisa dikatakan saya dan Rahma tidak begitu dekat sejak awal kami bertemu. Bahkan itu berlanjut saat kami kembali dipertemukan di SMP yang sama. Kelas yang berbeda, organisasi yang berbeda, serta kesibukan yang berbeda membuat saya dan Rahma tidak banyak berinteraksi ketika berpapasan di sekolah. Setelah lulus SMP, Rahma melanjutkan pendidikan di salah satu Sekolah Kejuruan di Makassar. Setelah beberapa tahun tak mendengar kabarnya, akhirnya kami bersua di salah satu tempat bimbingan belajar. Dan oh, kami sekelas lagi. 

Hampir setahun saya dan Rahma berada di kelas yang sama dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional dan SNMPTN. Lambat laun, kami semakin akrab dan saling mengenal satu sama lain. Ketika kegiatan midnight tiba, layaknya simbiosis mutualisme yang menguntungkan dua jenis makhluk hidup, saya akan mengerjakan soal-soal Matematika dan Rahma mengambil bagian untuk soal-soal Bahasa Inggris. Setelah itu, kami akan bertukar jawaban masing-masing karena saya lemah di pelajaran Bahasa Inggris, begitu juga Rahma sebaliknya. 

kelas XII SMA. memakai baju persatuan dari tempat bimbel

Dari mulai membeli pin SNMPTN, mendaftar di beberapa kampus cadangan, bahkan gagal di tahapan test Sekolah Kedinasan, saya dan Rahma selalu barengan. Dan alangkah bahagianya kami ketika akhirnya kami lulus di jalur penerimaan yang sama, bahkan di kampus yang sama. Tidak hanya itu, kami berdua lulus di jurusan yang kami inginkan sejak sebelumnya kami memikirkan beberapa jurusan yang cocok saat di tempat bimbingan. Rahma di jurusan Ilmu Komunikasi, sedangkan saya jurusan Matematika. 

Karena jarak antara rumah saya dan rumah Rahma lumayan dekat, maka seringkali kami melakukan lari pagi sembari berbincang tentang apa saja. Ah ya, kami mempunyai nama panggilan khusus masing-masing. Saya memanggilnya Amsky, dan dia memanggil saya Cumsky :3 Jadi, saya melihat banyak perubahan pada diri Amsky sejak ia bergelut di jurusan Komunikasi. Dia tidak canggung lagi saat berada di keramaian, semakin supel, dan tentunya semakin update mengenai perkembangan informasi. Sejak dulu, Amsky selalu bercita-cita ingin studi ke luar negeri. Tak jarang dia mengungkapkan hal tersebut di sela-sela kami berbincang. Karena Amsky, saya akhirnya banyak tahu mengenai penulis-penulis luar. Mulai dari Mitch Albom, Chitra Banerjee Divakaruni, dan masih banyak lagi. Saya paling senang jika berkunjung ke toko buku bersama Amsky. Pendapatnya mengenai banyak buku selalu menambah wawasan saya sedikit demi sedikit. 

Amsky merupakan salah satu motivasi saya untuk terus membaca. Dia mengajarkan saya banyak hal mengenai buku. Dari memilah plastik pembungkus buku yang baik, cara membungkus buku yang rapi, hingga bagaimana ia menghemat agar dapat memperbanyak koleksi-koleksi bukunya. Dikarenakan sejak akhir semester kemarin Amsky sangat disibukkan dengan magang di salah satu kantor redaksi televisi lokal Makassar, kami pun jarang bertemu. Sampai akhirnya ia mengabari saya beberapa hari yang lalu bahwa ia lulus seleksi Student Exchange ke Australia dan berangkat tanggal 15 mendatang. Wooooooow, Amskyyyy :O

"Dulu kami tidak takut bermimpi, walau sejujurnya juga tidak tahu bagaimana merealisasikannya. Tapi lihatlah hari ini. Setelah kami mengerahkan segala ikhtiar dan menggenapkan dengan doa, Tuhan mengirim benua impian ke pelukan masing-masing. Kun fayakun, maka semula awan impian, kini hidup yang nyata. ... . Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Tuhan sungguh Maha Mendengar" - Ahmad Fuadi, Negeri 5 Menara

Selamat berjuang, Amsky. Impian lambat laun akan menjadi nyata, pada waktu yang tidak pernah kita sangka-sangka. :')