4 April 2018

Dulu dan Sekarang

Dulu
Pagi hari kusambut dengan pertanyaan, "tugas/ujian apa yang akan berlangsung hari ini?" "mau kemana hari ini?" "pukul berapa kegiatan hari ini?"
Rumah berisik ketika aku akan bepergian
Mengunjungi setiap kamar untuk mencari kaos kaki sebelah yang tercecer
Bercermin mengamati penampilan mulai dari kaca bedak hingga jendela rumah
Tidak menghabiskan sarapan yang sudah disediakan karena terburu-buru
Melanjutkan tidur di angkutan umum karena sering begadang pada malam hari

Uang saku yang aku peroleh digunakan untuk makan dan membeli cemilan
Uang tambahanku berasal dari biaya browsing tugas di cafe/warkop, biaya cetak makalah, biaya fotocopy, dan biaya transportasi kerja kelompok yang di-upping
Menandai tanggal ultah sahabat di ponsel agar bisa menabung dari jauh-jauh hari untuk patungan dengan teman yang lain dalam memberikan surprise

Pulang larut adalah permasalahanku setiap harinya
Tak ada izin untuk bepergian dengan teman hingga petang
Tak ada izin untuk nginap-nginapan di rumah sahabat
Tak ada izin untuk menghadiri acara makan-makan di malam hari

Aku cemas jika aku tertidur dan tugasku belum selesai
Khawatir jika belum belajar dan jadwal ujian semakin dekat
Takut tidak diberi izin jika ingin nongkrong selepas kuliah
Langit berasa runtuh jika mendapat nilai anjlok

Sama halnya dulu, sekarang aku pun mulai mencemaskan beberapa hal
Jodoh, karir, keturunan, bahkan kematian

Aku pernah terjebak pada hubungan yang membuat perasaanku terlanjur luluh
Ketidakpastian dan ketidakjelasan membuat kita sepakat untuk mengakhirinya
Dan itu pula yang membuat patah hati begitu menyedihkan

Aku percaya ada dua hal yang membentuk manusia, yaitu kenangan dan harapan
Kenangan terkadang membuatku marah, gundah, rindu, bahkan menangis tersedu-sedu
Namun juga mengajarkanku untuk memperbaiki diri dan belajar mengikhlaskan
Sedangkan harapan menuntunku untuk maju dan berjuang meningkatkan kepasitas diri

Masalah karir, aku sudah memutuskan mengambil pekerjaan yang sesuai bidangku
Berkutat dengan data, memvalidasi banyak hal, menganalisa, dan mengambil keputusan
Pergi pagi, pulang larut, dan jauh dari keluarga terbayar dengan aku yang kini mampu mandiri secara finansial
Namun aku masih sering bimbang dan tidak tenang
Aku diuji dengan keinginan untuk berpindah dan mencoba kesempatan lainnya

Dulu dan sekarang merupakan proses yang sama, hanya merupakan babak kehidupan yang berbeda
Aku yang dulu dan sekarang masih diliputi banyak keresahan
Jawaban dari keresahan dulu akan dijawab hari ini, begitupun untuk hari ini akan ada di masa depan
Sampai akhirnya aku akan mengerti bahwa hidup ternyata hanya harus dijalani dengan baik

24 Oktober 2016

Kado Istimewa di Bulan Oktober

Hai semua. Rasanya sudah lama sekali tidak berkunjung kesini. Terakhir menulis, bulan Februari. Mau dibilang sibuk, tidak terlalu sibuk. Mau dibilang lengang, tidak juga.
Jadi???

Seperti penjelasan di tulisan sebelumnya, saya masih dalam perjalanan untuk memperoleh pekerjaan. Sejak menyadari betapa rumitnya program studi saya saat masih di bangku kuliah, saya tidak berpikir lagi untuk melanjutkan kuliah pascasarjana dengan program studi yang sama. Maka, hari di mana saya merayakan euforia kelulusan juga merupakan hari pertama saya mencari informasi mengenai lowongan pekerjaan. 

Mencari pekerjaan yang sesuai dan membutuhkan jurusan kita ternyata tidak semudah mencari informasi pekerjaan yang tersedia di berbagai media massa. Ketika memperoleh informasi lowongan sebuah instansi, hanya beberapa detik rasa harap akan berubah menjadi rasa sedih tatkala jurusan matematika tak ada di bagian kualifikasi. Begitu juga ketika memperoleh informasi lowongan instansi yang kualifikasinya mencari semua jurusan. Rasa bahagia akan pupus ketika melihat jenis pekerjaan yang sangat jauh dari materi dan keseharian di bangku kuliah. 

Ketika pemikiran untuk memperoleh pekerjaan yang membutuhkan jurusan saya itu menguasai diri saya, maka saya hanya bisa berikhtiar menunggu lowongan yang sesuai dan tetap belajar di rumah. Setiap harinya saya menyempatkan diri untuk belajar. Entah itu mengulang materi TOEFL saat kursus dulu, mengerjakan soal-soal CAT, serta soal-soal sejenis perhitungan yang selalu muncul di tahapan perekrutan karyawan. Namun, ketika melihat satu-persatu kawan mendapatkan rejeki pekerjaan, seketika ideologi awal saya mengenai pekerjaan yang saya inginkan akan lenyap dan saya akan melamar pekerjaan di mana saja meskipun tidak sesuai kehendak hati. 

Target saya untuk memperoleh pekerjaan yaitu tidak lebih dari setahun sejak saya meraih gelar sarjana. Namun, sebaik-baik manusia memiliki rencana, Allah juga memiliki rencana lain terhadap hidup saya. Ada hal-hal yang ingin disampaikan-Nya melalui banyak keputusasaan saya akan pekerjaan. Ketika saya sudah melewati banyak tahapan proses perekrutan dan di tahap akhir gagal, muncul perasaan di dalam diri saya bahwa kegagalan itu merupakan teguran dari-Nya akan sikap saya yang mulai angkuh ketika melewati tahapan demi tahapan tes, atau dari do'a-do'a yang masih tidak seimbang dengan ikhtiar saya.

Saya terus mencari dan mencari di mana letak yang salah dalam diri saya, ke mana Allah menuntun jalan saya, dan berpikir apakah hidup sekedar bekerja di tempat yang baik, mendapat gaji, memiliki keluarga, memiliki anak, kemudian mati. Saya terus mencari sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk menjalani hidup sesuai dengan rencanaNya. 

Menjalani hidup sesuai dengan rencanaNya tidak serta merta lupa untuk berusaha dan berdoa. Gagal dengan target pertama, saya menetapkan target kedua, yakni mendapatkan pekerjaan sebelum berusia 23 tahun. Untuk mengingat batas harinya, saya sengaja menempel shedule board di kamar. Hari demi hari saya jalani dengan terus belajar, mencari lowongan, mengikuti tes di beberapa tempat, dan tak lupa berdo'a. Saya menjalaninya tanpa takut lagi dengan target yang tidak tercapai. 

Oktober datang. Ada rasa cemas, takut, tapi tetap santai. Seminggu hampir berlalu. Saya punya firasat akan mendapat kabar baik. Namun tak ada yang terjadi. Malam di tanggal 6 Oktober, saya mengecek hape bapak dan alangkah terkejutnya saya ketika membaca pesan untuk mengambil surat pengantar medical check up di salah satu instansi beberapa jam sebelumnya. Saya panik. Saya mengonfirmasi bahwa saya telat membacanya sebab pesan itu dikirimkan ke nomor bapak. Mereka menerima alasan saya dan menjadwalkan hari esok untuk melakukan tes kesehatan. 

dibaca pada pukul 20.00 -_-

Minggu, di hari kesembilan Oktober, saya mendapatkan jawaban dari keinginan yang selama ini belum tercapai. Saya lulus untuk mengikuti program Management Trainee (MT) di salah satu perusahaan pembiayaan terlama di Indonesia. Posisi saya di program MT ini adalah Credit Analyst, yang mana kualifikasinya berasal dari jurusan MIPA (Matematika dan Statistika). Tanggal 10 kemarin merupakan hari pertama saya berkantor dalam rangka Pre ICT atau persiapan sebelum pelatihan di Head Office. Saya lulus hanya berdua dengan kak Praja, namun posisi kami berbeda. Saat ini saya masih harus menjalani Pre ICT kurang lebih dua minggu lagi sebelum meninggalkan Makassar selama waktu yang tidak ditentukan. Awal November saya akan berangkat ke Tangerang untuk pelatihan beberapa bulan, lanjut OJT atau On the Job Training atau bahasa umumnya magang di kota yang ditentukan, kemudian penempatan di kota yang juga ditentukan dari kantor pusat. 

Do'a memang sesuatu yang rumit. Kapan do'aku dikabulkan, kenapa do'a mereka lebih dahulu dikabulkan, apa pertimbangan do'a orang lain cepat dikabulkan, semua menjadi tanda tanya. Namun yang patut disyukuri ialah saya belajar ikhtiar dan ikhlas dari do'a-do'a yang masih diperjuangkan. 

15 Oktober, hari di mana umurku bertambah, tak ada perayaan meriah lagi dari teman-teman. Bunyi notifikasi dari smartphone juga sudah tidak seramai tahun-tahun kemarin. Rasa syukur atas perjalanan hidup yang penuh suka maupun duka membuatku lebih berbahagia dari tahun manapun. Tapi sehari setelahnya saya dikejutkan dengan kedatangan sahabat-sahabat SMA yang memakai topeng bergambar Adly Fayruz di acara arisan saya dengan teman-teman SD. Saya memang pernah berceletuk ingin diberi kejutan menggunakan topeng Adly Fayruz, tapi saya benar-benar lupa akan itu. Beberapa hari setelahnya juga saya tidak kalah terkejut ketika Lhya, Acik, dan kak Tyar datang ke rumah yang mana setahu saya Lhya dan Acik sedang liburan di Lombok. Ternyata setibanya di Makassar, mereka langsung menuju ke rumah saya. 

foto ini di-like oleh Adly Fayruz di Instagram, heheu

wanita-wanita di balik topeng : Hilda, Keong, Ninda, Mongsky

I'm a birthday girl

Katanya sih mereka gonceng tiga ke rumah ._.

"Jangan dulu dikabulkan apa yang dia minta. Aku ingin mendengar tangisan dan permohonannya lebih lama lagi karena Aku mencintainya."

Selamat ulang tahun, Nu. Selamat menjalani kehidupan baru yang Allah izinkan terjadi dalam hidupmu...

31 Desember 2015

Sarjana, lalu?

Ah… rasanya sudah lama sekali tidak berkunjung disini. Meskipun sudah tidak ada lagi kesibukan kampus yang menjadi alasan saya untuk berberat hati menuliskan beberapa tulisan, namun beban setelah lulus memaksa saya untuk tidak terlalu sering meluangkan waktu menjajaki dunia maya. Sejak tanggal 24 Juni kemarin, saya resmi berstatus “sarjana pengangguran”. Sefavorit-favoritnya perguruan tinggi, memang tidak ada yang menjamin lulusannya sukses di dunia kerja. Bahkan, serumit-rumitnya jurusan suatu universitas, jurusan tersebut pun belum tentu menjamin lulusannya mendapatkan pekerjaan dengan mudah.

Saya termasuk tipikal orang yang selalu terpacu dengan kesuksesan orang lain. Melihat orang-orang yang sukses di bidang akademiknya, yang diberikan kelancaran sampai meraih gelarnya, yang diberikan kemujuran hingga memperoleh pekerjaannya, dan masih banyak lagi. Namun ternyata ini tidak berlaku ketika beberapa sahabat seperjuangan saya di kampus diberi rezeki mendapatkan pekerjaan dengan cepat. Saya kepikiran berhari-hari, merasa payah akan diri sendiri, dan akhirnya sakit karena membebani diri.

Beruntung saja, sebulan setelah menganggur saya ditawari oleh senior untuk menjadi mitra kerja di BPS (Badan Pusat Statistik) Makassar. Selama setengah bulan saya membantu mengentri data dan alhamdulillah penghasilannya memuaskan ehehe. Honor tersebut saya gunakan untuk memperbaiki susunan gigi saya yang sangat berantakan dan tadaaaa

Anabel = Anak Berbehel

Setelah pergi pagi pulang petang dan duduk di komputer selama berhari-hari, terasa singkat ketika saya kembali menganggur dan hanya sesekali belajar di rumah. Namun apapun kondisi yang diberikan, sepatutnya saya syukuri. Sejak tidak disibukkan dengan apapun, saya jadi lebih sering berkumpul dan bercengkrama dengan sahabat-sahabat saya sejak SMA. Disebabkan rumah Popi yang tidak begitu jauh dari rumah, jadilah saya selalu mampir kesana. Oleh ide yang dicetuskan Keong, kami sepakat untuk menjadikan pertemuan-pertemuan kami lebih bermanfaat. Tidak hanya bertemu, ketawa ketiwi, dan sebagainya, tetapi kami akan membuat suatu usaha agar kami tidak lagi menengadahkan tangan kepada orang tua untuk meminta uang saku.

Berdasarkan gaya hidup kebanyakan orang saat ini yang pada momen-momen tertentu memberikan bunga untuk orang yang dikasihinya, kami belajar dari internet untuk membuat buket bunga cantik dari kain flanel. Awalnya kami hanya mempromosikannya dari kenalan-kenalan saja, namun banyaknya permintaan membuat kami memutuskan untuk turun langsung di beberapa lokasi wisudahan serta mempublikasikannya di internet. Tidak hanya itu, proposal usaha kami yang dibuat oleh Keong lulus seleksi dan diutus ke Jakarta untuk mengikuti tahap selanjutnya. Tapi sayangnya Keong tidak berhasil lolos dan tidak menimbulkan kekecewaan sedikitpun untuk kita berenam.

Sebenarnya kami bersahabat sebanyak tujuh orang, tetapi karena Hilda masih berkutat dengan skripsinya dan berkuliah di Bandung, dia tidak bisa bergabung. Sedangkan kami berenam sudah pada menyelesaikan kuliah dan hanya Acik yang mempunyai pekerjaan tetap. Sembari menjemput rezeki (pekerjaan, berkeluarga, atau melanjutkan sekolah) kami di masa mendatang, kami berenam akan tetap melanjutkan usaha ini sebisa mungkin. Jika dikatakan banyak sarjana yang malu untuk berjualan, itu tidak berlaku untuk kami. Sebab malu yang sesungguhnya yakni ketika kita tidak melakukan dan menghasilkan apa-apa :)

Sebelum berjualan

Setelah berjualan wkwk

mau pesan atau sekedar tanya seputar buket handmade lucu dari kami? follow instagram ge's florist dan klik link di bio aja yaa
*GE merupakan singkatan dari Girls Entrepreneur

11 Juli 2015

Pendamping Wisuda

Momen wisuda selalu menjadi momen yang dinanti oleh setiap mahasiswa, termasuk saya tentunya. Sejak hari di mana saya sah menyandang gelar Sarjana Sains, saya punya waktu dua pekan untuk mengurus berbagai hal demi keperluan wisuda. Mulai dari merevisi skripsi sampai benar-benar rampung, sampai membagikan cetakan skripsi beserta CD yang berisi file skripsi dan jurnal ke beberapa pihak: kedua dosen pembimbing utama dan pertama, perpustakaan jurusan, perpustakaan fakultas, perpustakaan pusat, dan beberapa tempat lagi. 

Ketika urusan pempublikasian skripsi saya telah rampung, saya diberikan nomor beserta kalung wisudawan serta undangan yang ditujukan untuk kedua orang tua. Kebahagiaan saya menjelang wisuda lantas lenyap ketika sesampainya di rumah ibu saya mengatakan tidak dapat hadir dikarenakan harus jagain Azimah, ponakan saya yang paling bontot, karena ibunya (kakak saya) tugas di luar kota. Akibatnya, saya ngambek selama beberapa hari yang ternyata tidak berefek apa-apa. Kesal saja ketika mengingat ibu dan bapak dapat hadir di wisuda kakak-kakak saya, sedangkan saya yang notabene adalah anak bungsu, dibiarkan wisuda tanpa didampingi orang tua yang lengkap. 

Hari wisudaku tiba. Meskipun hanya berdua bersama Bapak, saya tetap bahagia dan mensyukuri bahwa dari sekian banyak orang, tidak semuanya dapat berkuliah, dari sekian banyak yang kuliah, tidak semuanya dapat kuliah di kampus ini, dan dari sekian banyak yang kuliah di kampus ini, tidak semuanya berakhir dengan wisuda. Sebelum memasuki auditorium Baruga A.P. Pettarani, saya menyempatkan diri untuk singgah berfoto dulu di depan latar rak buku ala-ala wisuda bersama Bapak. 

Ibu, Bapak, anak bungsumu sudah sarjana :)

Satu lagi peristiwa penting yang saya lalui selama bulan ramadhan selain ber-KKN tahun lalu, yakni wisuda. Mengikuti prosesi wisuda saat berpuasa membuat suasana di dalam Baruga sedikit lebih sakral. Sekitar pukul 11.30, tibalah giliran saya untuk berbaris, naik ke panggung, dan menyalami dekan dan rektor yang sekaligus memindahkan tali toga saya sebagai simbol saya telah lulus dan siap mengabdi di masyarakat sesuai dengan bidang yang saya pelajari saat kuliah. 

Hari sudah siang. Matahari tertutup mendung mengantarkan saya meninggalkan auditorium yang menjadi lokasi penyambutan saat saya berstatus mahasiswa baru. Di tengah ribuan wisudawan-wisudawati, saya sibuk mencari Bapak yang berada di antara kerumunan tamu undangan. Setelah bertemu, kamipun bergegas menuju jurusan saya, jurusan Matematika, yang mana telah dipersiapkan acara ramah tamah di sana. Di tengah perjalanan, saya mendengar suara yang memanggil-manggil nama saya. Ah, sahabat-sahabat semasa SMA saya ternyata datang. Karena saya buru-buru, maka kami mengambil gambar bersama dengan buru-buru pula. 


Saat akan menaiki tangga untuk ke lantai tiga di mana jurusan saya berada, saya mendapat telepon dari Bayo, koordinator desa saat KKN. Alangkah terkejutnya saya ketika melihat teman-teman seposko juga datang, meskipun minus Ira dan Abu. 


Selepas acara ramah tamah di jurusan, saya menemui mereka yang telah rela dan sabar menunggui saya sekian jam. 

yang bela-belain datang di tengah kesibukan kerjaan dan kampusnya. Untuk Hilda yang masih berjuang di Bandung, semangat!

sohib dan senior saat di PMR. bersama saya, kami tidak pernah absen mengunjungi wisuda masing-masing. habis ini, kita ke wisudanya siapa lagi ya? :|

sahabat dan kelompok belajar yang lulusnya hampir berbarengan. selamat wisuda untuk kita, Aidil, Asdar, Riza, dan Wawan. terima kasih untuk bunganya, Nita. meskipun Ainun, Ulfah, dan Akra tidak sempat hadir, tapi semangat dan dukungan dari kalian selalu hadir.

Wisuda kali ini memang tidak seriuh wisuda yang biasanya. Cuaca mendung bahkan gerimis, tidak ada acara makan-makan sebab bulan ramadhan, tidak begitu ramai sebab sudah libur panjang, dan euforia yang tidak begitu besar. Awalnya, saya merasa tidak ada bedanya dengan acara wisuda tersebut. Sepi. Ibu di rumah, kakak-kakak pun sibuk dengan urusannya, tidak ada yang istimewa dari kelulusan saya. Padahal wisuda seharusnya menjadi hal yang paling membanggakan dan ditunggu-tunggu. Begitu juga dengan orang-orang yang mendampingi saat wisuda, tentunya orang-orang spesial. Untungnya kehadiran dari mereka; teman, sahabat, mampu mengobati kesedihan saya yang merasa terpuruk sebab tidak dapat menikmati momen keberhasilan dengan kedua orang tua. 

Sebaik-baik pendamping wisuda adalah orang tua. Namun, didampingi orang-orang terkasih di hari bahagia pun tak kalah membahagiakannya :)

24 Juni 2015

9 Juni 2015

Akhirnya Saya Sarjana!

Alhamdulillaahirobbil 'aalamiin... Hanya ucapan tersebut yang dapat menggambarkan betapa bersyukurnya saya saat ini. Jika mengingat kembali bagaimana proses pengerjaan skripsi saya yang begitu rumit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit, sangat mustahil jika saya mampu mengikuti wisuda untuk periode Juni. Awalnya, setelah menyelesaikan perkuliahan di semester tujuh, tepatnya di awal tahun ini, saya menemui dosen Pembimbing Akademik saya untuk konsultasi perihal tugas akhir yang akan saya kerjakan nanti. Beruntungnya saya karena dosen PA saya ini menawarkan diri untuk menjadi pembimbing utama tugas akhir saya. Jadilah saya mengambil skripsi tentang Aljabar-Koding yang sama sekali tidak saya mengerti sebab kuliahnya pun belum saya ambil.

Kurang lebih dua bulan saya (belajar dari nol) bimbingan skripsi dengan Pak Loeky, pembimbing utama sekaligus dosen PA saya. Dengan ikhlas dan sabar Pak Loeky meluangkan waktu dan tenaga untuk mengarahkan saya dalam menyusun proposal. Sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk tampil seminar pada tanggal 27 Maret. Di jurusan saya, waktu yang diberikan untuk melakukan seminar hanya pada hari Jumat, dari pukul 09.00 sampai pukul 12.00. Pada hari pelaksanaan seminar proposal, saya mendapat giliran kedua, yaitu dari pukul 09.45 sampai 10.25. Namun apa yang terjadi, waktu yang saya gunakan di luar batas kewajaran untuk orang-orang yang melaksanakan seminar proposal. Saya diserang banyak pertanyaan mengenai materi dasar, dan hampir semua pertanyaan dasar tersebut hanya mampu saya jawab dengan seulas senyum tipis. Analoginya, bagaikan mahasiswa jurusan Biologi yang tidak mampu menjelaskan secara lengkap bagaimana proses fotosintesis itu terjadi. Ya, hari itu saya tidak mampu menjelaskan dengan baik bagaimana keterkaitan ruang vektor, barisan, dan lapangan berhingga yang termuat di dalam skripsi saya. 

Dilibas saat seminar sebenarnya hal lumrah bagi mahasiswa di jurusan saya, namun bagi saya itu tidak wajar. Selama dua minggu saya mogok ngampus dan tidak melakukan apa-apa di rumah. Saya malu, trauma, frustasi, dan ingin nikah saja #lhaa. Tepat hari ke-14 pasca seminar proposal, Pak Loeky mengirimi saya pesan
Kenapa ya, anak bimbingan saya yang satu ini tiba-tiba malas konsul. Besok siang ke ruangan saya, ya.
Dengan perasaan malu akhirnya saya memberanikan diri untuk ke kampus. Saya merasa kotor tatkala berjalan menyusuri koridor dan ditatap oleh teman-teman yang mungkin merasa aneh karena saya baru muncul lagi. Bertemu dengan Pak Loeky rupanya membuat semangat saya kembali mencuat. Dia telah lupa dengan peristiwa yang menimpa saya dan kembali bersemangat melanjutkan pengerjaan skripsi saya. 

Hari berlalu minggu, minggu berlalu bulan, tapi tak kunjung selesai skripsi ini, begitupun dengan keberanian saya untuk kembali tampil pada seminar hasil. Teman seperjuangan saya, Asdar, memberikan saya batas waktu untuk seminar pada tanggal 22 Mei, sebab batas akhir pengumpulan berkas sidang yaitu pada tanggal 27 Mei. Berkat segala usaha, ketekunan, serta do'a yang tiap hari saya panjatkan, saya mampu menyelesaikan skripsi tepat pada pekan ketiga Mei. Surat kesiapan seminar, lembaran persetujuan, serta undangan seminar kembali saya siapkan pada hari Senin. Tapi apa yang terjadi, Pak Loeky tiba-tiba melarang saya untuk seminar dengan alasan masih ada yang harus ditambahkan dalam bab Hasil dan Pembahasan saya. Pupuslah sudah semangat yang menggebu-gebu ini. Saya batal seminar dan sudah pasti saya tidak dapat mengumpulkan berkas pada waktu yang ditentukan. 

Tepat hari Jumat, saya kembali menemui Pak Loeky untuk memperlihatkan skripsi yang telah saya ubah entah untuk keberapa kalinya. Ketika saya sedang menyalakan notebook, Pak Loeky membuka percapakan,

"apa kata orang tuanya rahmah pas gak jadi seminar hari ini?"
"tidak apa-apa pak, hehe"
"kalo mau, seminar saja hari senin. coba tanya pak Nur..."
"oh iya, pak".

Pak Nur memegang jabatan sebagai koordinator pelaksanaan seminar sekaligus sekretaris penguji skripsi saya. Setelah menyampaikan maksud bahwa saya ingin seminar pada hari Senin karena dikejar deadline, Pak Nur mengiyakan. Tetapi, kegembiraan saya tidak berlangsung lama. Saya kembali takut dan gelisah sebab harus seminar seorang diri, ditonton banyak dosen, ditonton banyak orang. Walaupun tertatih-tatih, saya berhasil melawan rasa takut saya untuk tampil kedua kalinya di depan orang-orang guna memaparkan hasil skripsi saya. 

Senin, 25 Mei 2015 - Seminar Matematika II

Dibantu oleh Asdar, saya mengumpulkan berkas map merah (sidang) sehari sebelum batas pengumpulan. Esok harinya, saya melihat teman-teman seperjuangan yang telah seminar hasil sibuk mondar-mandir jurusan untuk mengurus persiapan sidang. Sedangkan saya, saya diserang kemalasan untuk mengurus berbagai hal dan merasa bahwa Seminar Hasil adalah pencapaian terbaik saya. Beberapa hari berlalu, saya masih bermalas-malasan di rumah. Tanggal 5 Juni adalah tanggal yang ditetapkan oleh fakultas sebagai hari terakhir untuk melaksanakan ujian sidang. 

Juni hari pertama. Iseng ke Science Building, ternyata Surat Keputusan (SK) Sidang saya sudah keluar dari rektorat. Saya bingung. Berkas yang paling ditunggu-tunggu oleh teman-teman yang bakal sidang sudah saya terima, tapi di sisi lain saya belum mau untuk ujian lagi, belajar lagi, dan mengurus administrasi lagi. Saya pun bertanya ke Pak Suardi, pegawai fakultas yang paling akrab dengan mahasiswa,

"Pak, kalau saya tidak bisa ujian sampai tanggal 5, SK-nya bagaimana Pak?"
"Loh, kenapa pesimis sekali? Masih ada 4 hari, dek" (Pak Suardi terbilang masih muda, makanya lebih memilih memanggil adek kepada semua mahasiswa).
"Ngngng..."

Sesampainya di jurusan, saya diomeli oleh teman-teman seperjuangan sebab ingin menyia-nyiakan SK dan kesempatan selama beberapa hari ke depan. Sejak seminar hasil, saya memang berniat untuk istirahat dulu, lalu ujian sidang kapanpun selama pembayaran SPP belum dibuka, dan wisuda pada periode selanjutnya. Tetapi, setelah mencurahkan keinginan tersebut kepada teman-teman, saya habis dicerca dengan kalimat-kalimat yang mengatakan bahwa saya bodoh, tolol, dan sebagainya. Dari sekian banyak omelan, kalimat dari Ainun tiba-tiba membuat saya mempertimbangkan keputusan saya. Katanya, saya harus melakukan apapun yang dapat saya usahakan, kalau memang bukan rejeki saya untuk meraih gelar pada periode ini, pasti ada saja hambatan yang saya peroleh. Akhirnya, bergegaslah saya menemui Pak Loeky dan mengatakan bahwa saya ingin mengusahakan untuk sidang minggu ini. Pak Loeky mengizinkan, dengan catatan saya harus bekerja keras untuk memperbaiki beberapa pembuktian teorema dan membuat bahan presentasi dalam semalam. 

***

Malam sebelum sidang, saya tidak bisa tidur. Perasaan takut dan cemas menyelubungi saya. Sebelumnya, Asdar mendapat kesulitan saat ujian sidang; berkasnya ditahan oleh ketua penguji dan nilai sidangnya ditunda. Jadilah semalaman saya mencemaskan hal-hal buruk. 

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Detak jantung bergerak lebih hebat dari biasanya. Sejak pagi sampai waktu shalat jum'at tiba, saya terus mengulang materi dan membayangkan apa yang akan terjadi beberapa jam kemudian. Pukul 13.15. Saya sudah siap menampilkan bahan presentasi di dalam ruangan sidang yang ukurannya cukup sedang. Ketiga dosen penguji saya masuk, disusul Pak Loeky selaku pembimbing utama dan Bu Era sebagai pembimbing pertama. Prof. Amir yang notabene adalah ketua penguji, membuka ujian sidang dan mengatakan bahwa proses ujian ini akan dibagi sebanyak tiga sesi; presentasi, tanya jawab, dan penentuan nilai. Selama lima belas menit saya mempresentasikan semua bab dalam skripsi saya. Selanjutnya, sesi tanya jawab. Dengan wajah yang lumayan seram, Prof. Amir berkata, "cari spidol dan penghapus sekarang". Deg. Pertanyaan apa yang bakal saya terima, pikirku sembari berlari mencari spidol di ruang kelas. 

Sekembalinya di ruang sidang, saya diminta untuk menjelaskan salah satu Lemma dalam skripsi saya. Tiga puluh menit berselang. Seisi ruangan bingung. Lemma yang saya peroleh dari jurnal seorang peneliti rupanya memicu kebuntuan. Mau tak mau, waktu terus berlalu. Solusi dari Pak Loeky mulai diterima. Ada beberapa kalimat pada Lemma yang mesti diubah, begitupun dengan pembuktiannya. Dan beban itu tentu saja menjadi tugas saya, hiks. Selanjutnya, beberapa pertanyaan dari Prof. Amir kembali diberikan. Saya diberikan waktu untuk menjawabnya.

Tak ada yang lebih lega dari mendengarkan kalimat "baiklah, karena waktu untuk tahap kedua telah selesai, selanjutnya kita melangkah pada sesi penentuan nilai. Saudari Nur Rahmah dipersilakan meninggalkan ruangan sidang". Fiuhhh. Di luar ruangan, satu persatu teman seangkatan menyalami saya sembari berkata "cieeh S.Si". Beberapa menit kemudian, Pak Nurdin, salah satu dosen penguji, memanggil saya untuk masuk ke ruangan. Prof. Amir kembali memegang peran untuk mengumumkan nilai saya. Setelah melakukan shock therapy alias kebohongan dengan maksud mengerjai, Prof. Amir mengatakan bahwa pada tanggal 5 Juni 2015, saya dinyatakan lulus dan memperoleh gelar Sarjana Sains dengan nilai "Sangat Baik". 

Saya tersenyum. Dosen-dosen terkekeh dan mulai menikmati konsumsi yang disediakan. Sesungguhnya, saya benar-benar mensyukuri segala kelancaran dan kemudahan yang saya peroleh. Semua yang saya cemaskan tidak terjadi. Saya benar-benar bahagia. Saya akhirnya paham bahwa tidak ada yang sia-sia dari usaha dan do'a. Selamat tinggal, kampus. Terima kasih atas semua pembelajaran dan kenangan berharga selama 3,8 tahun ini. 

YEAY!!!

Nur Rahmah Makmur, S.Si

Kenalan pertama di kampus. Sahabat. Temen gosip. Temen seperjuangan sampai akhir. Asdar, S.Si

Asdar, Nita, Akra, Wawan (member Barongs) + Ilha, Yuli, Fafah (sohib-sohib sewaktu maba yang udah pindah jurusan dan kampus sejak semester tiga)

(Keong, Khatmi, Ninda) sahabat-sahabat sejak SMA yang juga sekampus tapi beda-beda jurusan. Lekas nyusul yaaa!

Lhya. Saya tidak pernah mendengar kabarnya dalam waktu yang lama dan tiba-tiba dia muncul... :(

9 April 2015

Satu Beban Terlewati

Semester ini menjadi semester terberat saya selama perkuliahan, sepertinya. Berbulan-bulan saya mengerjakan proposal. Bolak-balik menemui dosen pembimbing. Buka materi ini, buka materi itu. Begadang berhari-hari. Terkadang lupa makan. Tak punya kesempatan dan ruang lagi untuk mengerjakan hal lain. Sebab saya sadar, saya bukanlah seseorang yang berotak cerdas. 

Tapi saya tetap optimis untuk wisuda pada periode Juni. Dengan modal nekat dan tekad, 27 Maret 2015 pada pukul 09.45 WITA saya melaksanakan seminar proposal. Akhirnya yah, Nuu....



Seminar proposal yang disepelekan oleh sebagian orang ternyata tidak sesepele yang saya kira. Kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi saya saat itu mungkin, berantakan. Ya, bahkan jika kepingan semangat yang hancur itupun disatukan kembali, hasilnya tidak akan seutuh seperti di awal. Selama dua minggu saya mengalami kegalauan, depresi, mogok kerja, dan frustasi. Meskipun begitu, sesekali saya menyempatkan diri untuk menengok folder "skripsi akooh" yang jika dengan melihatnya saja dapat menimbulkan trauma. 

Hari ini saya memberanikan diri untuk melihat nilai seminar saya di buku catatan dosen yang menjadi koordinator seminar saat itu. Ucapan syukur tak henti saya lafazkan saat meninggakan ruang dosen. Harapan dan semangat yang mulanya kecil kini berubah seketika. Saya mulai bangkit, mulai berbaik sangka, dan melihat tahapan selanjutnya sebagai sebuah tantangan. Sebab perjuangan masih berlanjut, masih ada seminar hasil dan ujian sidang. Yah, setidaknya satu beban telah terlewati. Tetap semangat ya, saya.

Wajah dipaksa senyum usai seminar :'(

3 Januari 2015

Ada Apa di Tahun Ini?

Tibalah masa di mana saya akhirnya berhadapan dengan salah satu fase wajib yang dialami seluruh mahasiswa Indonesia, yakni skripsi. Yap, sejak Desember kemarin, saya sudah terbebas dari segala bentuk perkuliahan dan kesibukan selama menjadi asisten lab. Meskipun IPK saya nilainya pas-pasan, saya kekeuh tidak akan mencoba untuk memperbaiki beberapa mata kuliah. Satu-satunya mata kuliah yang saya ulangi yaitu Statistika Matematika, yang awalnya D menjadi B-, huft.

Untuk menghadapi seminar skripsi/tesis di jurusan saya, kita diwajibkan untuk mengikuti Ujian Komprehensif dari lima bidang/lab; Aljabar, Analisis, Komputasi, Terapan, dan Statistik. Kelima lab ini masing-masing memiliki dosen penguji yang nantinya akan mengevaluasi sejauh mana materi yang telah dikuasai. Sampai saat ini, saya baru melulusi tiga lab dari semuanya, ckck. Trus kenapa berani bahas skripsi, Nuu?

Sekadar kalian tahu, saya memang tipikal orang yang terkadang melakukan sesuatu dengan sangat tidak beraturan. Pada saat pengumpulan KRS saja, yang lebih dahulu menandatangani KRS saya adalah dosen PA saya daripada saya sendiri. Iya, kebangetan kan? Nah, begitu juga dengan masalah skripsi. Dari jauh-jauh hari sebelum melulusi beberapa ujian kompre, saya sudah menemukan pembimbing skripsi-disertai-dengan-kebaikan-hati yang memberikan saya beberapa jurnal untuk penentuan judul. Meskipun begitu, saya masih saja mengalami kendala dalam pemilihan konsentrasi. 


Gambar di atas adalah beberapa target yang saya tempel di dinding kamar guna memotivasi saya setiap melihatnya. Namun, pemilihan materi dari skripsi yang sudah saya rencanakan sepertinya akan berubah. Dosen pembimbing yang sebelumnya saya ceritakan di atas memberikan saya materi yang lebih rumit.

“Seniormu sudah banyak yang ambil Aljabar,” katanya.
“Jadi, Pak?”
“Ambil Koding saja, ya. Nanti saya ajar.”

Dan inilah saya si mahasiswi paling sok jagoan sejagad raya, berani mengambil materi Teori Koding untuk skripsi, yang mata kuliahnya saja saya belum ambil :’(
                    
                                                                             ***

Sebagai mahasiswa semester akhir, saya tidak akan menuliskan resolusi atau daftar pencapaian yang harus terlaksana di tahun ini. Cukup dengan menyebutnya harapan, mungkin terdengar lebih ringan untuk seseorang yang otaknya pas-pasan seperti saya, hiks. Semoga dua lab yang tersisa dari ujian kompre dapat saya lalui dengan cepat, dan pengerjaan skripsi-yang-belum-jelas-ini dimudahkan serta dilancarkan.


Anyway, selamat menyambut tahun 2015, kalian! dan selamat menjadi calon wisudawan 2015 untuk saya! Aamiin..

9 Desember 2014

Genk Cabe

Mengajar sempoa aritmatika adalah program kerja individu saya saat di lokasi KKN. Saya memang sempat menamatkan kursus sempoa selama kurang lebih tiga tahun saat duduk di bangku Sekolah Dasar. Meskipun sudah cukup lama, tapi saya masih mahir dalam menggunakan sempoa disebabkan operasi aritmatika (seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian) yang tidak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari. 

Selama dua bulan menjalani KKN di desa Tappale, saya menerapkan materi sempoa di dua tempat yang berbeda. Di pagi hari saya mengajar di SDN 186 Tappale, dan malamnya saya membuka kursus di posko untuk adik-adik tetangga. Peserta kursus sempoa saya berjumlah sepuluh orang, dengan kisaran umur 13-16 tahun. Masing-masing dari mereka bernama Nadia, Tenri, Sarinah, Irma, Wati, Winda, Sari, Syahrul, Yayat, dan Rendi.

Kak Nunuu dan adik-adik sempoa

Di awal-awal pertemuan, kesepuluh anak ini lumayan awam dengan istilah sempoa. "Apa itu, kak?," begitulah respon mereka ketika saya bertanya, pernah melihat atau menggunakan sempoa atau tidak. Namun seiring malam berganti, beberapa dari mereka mengalami kemajuan yang kilat. Saya sampai menahan haru ketika mereka begitu ulet berlatih di luar jam kursus, bahkan menggunakan biji asam ketika tidak kebagian sempoa. 

Lambat laun, beberapa dari mereka mulai mengompakkan gaya berpakaian serta aksesoris saat akan kursus di posko. Ya, saat belajar sempoa, bando ala-ala 7 icons tidak pernah absen bertengger di kepala mereka. Bahkan, gurunya juga ikutan.......... ckck


bando lucu - cukup tiga ribu saja

Akhirnya, posko kami (re: saya dan teman-teman) tidak hanya dijadikan sebagai tempat belajar dan mengerjakan PR oleh adik-adik sempoa, tetapi juga sebagai tempat bermain, tempat ngumpul, bahkan tempat meluapkan keahlian masak-masak mereka. Saya sampai menjuluki mereka dengan sebutan "genk cabe" dikarenakan hobi mereka sering naik motor bertiga bahkan berempat, suka tertawa histeris kalo lagi ngomongin orang, dan punya gaya khas ketika sedang bertemu.

katanya, lagi bikin eci-eci.. oh, rupanya bakwan

Menjelang penarikan, saya mengadakan lomba untuk mereka dengan bersaing mengerjakan soal menggunakan sempoa maupun mental (sempoa bayangan). Dengan iming-iming yang pekerjaannya paling bagus dapat hadiah, akhirnya dari jauh-jauh hari mereka berlatih dan tidak lupa meminta bocoran soal. Pada hari yang telah ditentukan, anggota genk cabe sudah meramaikan ruang tamu posko dengan keriuhannya. Sembari menunggu saya yang saat itu masih bersiap-siap, Tenri dengan semangat bertanya, "kak Nunuuu.. apa hadiahnya kah? Lalu Yayat, si murid paling usil menimpali, "kak Nunuu, tidak minta jeka saya hadiah yang mahal-mahal, kasi meka saja sempoa ta'," dan direspon dengan anggukan oleh murid-murid yang lain. "Iya dek, nanti kalo balik ke Tappale lagi, saya bawakan sempoa nah," jawabku penuh haru.

Final test


Usai membagi-bagikan coklat sebagai hadiah atas pencapaian soal yang mampu mereka kerjakan, mereka melanjutkan malam dengan bermain kartu dan karambol bersama. Ya, sebab malam itu merupakan malam kedua dari terakhir saya di sana. Sampai akhirnya malam semakin larut, si genk cabe pun memutuskan untuk pulang dan menyempatkan menulis beberapa kalimat di karton yang biasa saya dan teman-teman gunakan untuk menuliskan agenda-agenda penting selama melaksanakan KKN. Sebenarnya, saya sempat mengabadikan tulisan-tulisan yang termuat di karton tersebut, tapi memory card saya rusak, dan alhasil semua gambarnya hilang, hikshiks. Beberapa kalimat yang masih mengena di kepala saya, yaitu:

"Kak Nunuu, terima kasih karena sudah sabar mengajari kami sempoa, terutama Winda dan Sari...."
"Kak Nunuu, jalan-jalan ki' lagi ke Tappale ajarki genk cabe..."
"Kak Nunuu, datang ki' lagi berenam sama teman-temanta"
...............................

Dan, tidak ada hal lain yang mampu saya lakukan kecuali, .................... terisak.

                                                                          ***

Pada saat acara perpisahan bersama warga desa Tappale, tidak ketinggalan genk cabe juga turut serta. Setelah menangkap ikan, membakar ikan, dan kemudian melahapnya sampai puas, kebanyakan anak-anak melanjutkan acara dengan mandi-mandi di sungai. Namun, saya yang notabene bukan anak-anak, malah ikutan basah kuyup disebabkan keusilan personil genk cabe, huft. Meskipun begitu, saya senang bisa membuat mereka tertawa lepas karena telah berhasil menceburkan saya dan kedua teman saya yang lain, yaitu Kezia dan Ira. 

di balik rangkulan Syahrul, ada motif penceburan yang tersembunyi

Selamat tinggal desa Tappale.. selamat tinggal adik-adik sempoaku.. tentu saja kita akan berjumpa di lain kesempatan :)

31 Oktober 2014

21

Hmm baiklah. Sebelum bulan Oktober berlalu, izinkan saya untuk menuliskan satu dua paragraf perihal satu hari yang selalu menjadi dan dibuat beda dalam hidup saya, yakni hari ulang tahun.

Ketika jam tepat menunjukkan pukul 00:00, nada dering pertanda sebuah pesan masuk berbunyi. 

"Selamat ulang tahun, Nur Rahmah Makmur."

Ya, pesan ringkas itu darinya—seseorang di luar sana yang begitu irit dalam berucap, pun merangkai kata. Keharuan pasca membaca pesan darinya tiba-tiba terhenti dengan adanya panggilan masuk. Belum sempat kujawab dengan halo, kalimat selamat ulang tahun kembali terucap darinya. Hahaha, saya tertawa dan kembali menahan haru.

Dan kejutan darinya belum terhenti sampai disitu...


Sepulang dari kampus, alangkah terkejutnya saya ketika mendapati Lhya, kak Iyda, plus kakak Uci (kakak ipar saya) bersorak "Selamat ulang tahun" dengan kencang sambil membawa kue berlilin dan balon yang berwarna-warni. Lhya dan kak Iyda adalah dua sohib saya di organisasi kepalangmerahan sewaktu SMA. Selang beberapa jam kemudian, Acik, Khatmi, Keong, dan Ninda—sahabat sejak SMA yang setiap tahunnya selalu bersusah-payah untuk memberi kejutan di rumah tapi selalu gagal, kembali meniatkan raganya untuk ke rumah dengan lima buah cupcake (kue mangkok) serta kantongan yang berisi jilbab.

Tepat di Sabtu sore, dengan wajah kumel baru bangun, belum cuci muka, apalagi sikat gigi, teman se-genk saya di kampus menghambur masuk ke rumah dengan sangat gaduh. Mereka menghadiahkan saya sebuah tirai kamar horor layaknya tirai kamar praktek dukun, ckck. Malam menyambut, kami bersembilan melanjutkan aktivitas dengan bermain kartu remi dan UNO hingga subuh. Ya.. kami menghabiskan Sabtu hingga Minggu waktu itu dengan bertingkah gila-gilaan.


Akhirnya, seperti itulah orang-orang di sekitar saya memperingati momen pergantian tahun saya yang ke-21. Selamat ulang tahun, Nuu. Berbahagialah.

30 Juli 2014

K K N

KKN? Apa sih KKN itu? Buat yang belum tahu, KKN yang merupakan singkatan dari Kuliah Kerja Nyata adalah salah satu kewajiban yang diikuti oleh setiap mahasiswa perguruan tinggi untuk mengabdi kepada masyarakat selama dua bulan penuh (kalau di kampus saya) dengan membuat beberapa program kerja guna membangun dan memajukan suatu desa. Ok, here's my story...

Pertengahan Mei hingga awal Juni adalah masa-masa ribetnya saya mengurus KKN. Mulai dari pendaftaran, pembekalan, pendaftaran KKN Tematik, seleksi KKN Tematik, hingga akhirnya saya tidak lolos dan diarahkan untuk mengikuti KKN reguler seperti mahasiswa pada umumnya. Setiap memikirkan KKN, saya selalu bertanya-tanya, mampukah saya jauh dari orang tua? Mampukah saya hidup di desa orang dengan kemampuan masak yang ala kadarnya? Mampukah saya menjalani hari tanpa update di jejaring sosial? Lha...

Pada awalnya, jadwal pemberangkatan KKN ditetapkan pada akhir Juni. Namun karena masalah Pemilu dan lain hal, maka diundurlah keberangkatan kita hingga tanggal 10 Juli. Lantas, persediaan cemilan yang telah saya siapkan dari jauh-jauh hari malah ludes dalam beberapa hari hanya karena penundaan keberangkatan, hiks. 

Mendekati hari keberangkatan, tentunya saya meluangkan waktu untuk bertemu dengan mereka, sahabat-sahabat kesayangan cabang mana saja. Hihihi.

Amsky: teman SD, teman SMP, teman bimbel, teman jogging, teman ke Gramedia, teman....

(Nunu Muhlis - Nunu Anis - Nunu Ama)
Genk Nunu saat SMP

(Popi.Hilda.Khatmi.Keong.Acik.Ninda.Nunuu)
mulai bersahabat ketika masa SMA akan berakhir

Afifah - Nunuu - Lhya
dua orang paling kosong dan ajak-able di jagad raya
*gambar ini diambil saat mereka "menculik" saya di malam sebelum keberangkatan T...T

Barongsss: kelompok belajar di kampus, kelompok kuliner-an, kelompok cabe-cabean

**

Tibalah hari di mana pengumuman lokasi diumumkan. Saya ditempatkan di Incheon, Korea Kecamatan Libureng, Bone. Dan ternyata saya tidak sendiri di kecamatan itu, ada Nita dan Wawan juga, salah dua member barongs pada gambar di atas. Pada tanggal 11, hari kedua keberangkatan, saya diantar oleh Mama dan Bapak ke kampus, tak lupa berpamitan dengan kakak-kakak dan ponakan saat di rumah. Ya, ini merupakan pertama kalinya saya jauh dari keluarga, terutama orang tua. Ada rasa sedih karena harus mandiri di tempat orang, pun rasa penasaran karena akan berpuasa dengan lingkungan dan suasana yang baru. 

Sungguh. Momen di mana bus yang saya tumpangi pelan-pelan melaju meninggalkan lapangan PKM, di saat itu pulalah saya melihat ibu saya menitikkan air mata sembari melambaikan tangan. Huhu. Setelah melewati perjalanan kurang lebih empat sampai lima jam, akhirnya saya tiba di Kantor Camat Libureng dan diadakan penyambutan mahasiswa KKN untuk kecamatan tersebut.

Sebenarnya, pada malam sebelum keberangkatan, saya menerima pesan yang berisi nama desa di mana saya ditempatkan; yakni desa Mario, yang alangkah kagetnya saya saat mengetahui bahwa saya dengan Nita berada di desa yang sama, yang berarti kami seposko. Namun, ketika acara penyambutan berakhir, supervisor mengabsen nama-nama kami dan.... nama saya berada di desa Ponre-ponre. Akhirnya saya menemui supervisor dengan membawa bukti sms dari koordinator kecamatan yang mengatakan bahwa saya di Desa Mario. Dengan pertimbangan bahwa saya dan Nita se-jurusan dan kuota pada setiap posko terbatas, maka saya pun dengan tabah harus berpisah dengan Nita. Namun, kemalangan saya tidak hanya sampai disitu. Sesaat setelah saya berhasil menemui koordinator dari desa Ponre-ponre, seseorang memohon-mohon kepada saya agar saya bersedia ditukar dengan temannya dari desa lain. Ya sudah, saya kembali berurusan dengan supervisor dan ditempatkan di desa Tappale.

Dengan menaiki mobil pick up, saya diangkut menuju desa Tappale bersama lima orang lainnya. Saat di perjalanan, saya memberanikan diri untuk menanyai nama dan asal jurusan mereka. Dan wow, tidak hanya jurusan, fakultas bahkan asal daerah kami pun berbeda. Tiba di desa Tappale, rupanya kami ditempatkan di rumah kosong, tidak begitu jauh dari rumah Pak Kades. Ya, rumah kosong. Bukannya beristirahat karena lelah usai perjalanan jauh, kami malah menghabiskan sore dengan membersihkan rumah tersebut. 

Ah, ya. Saya bersyukur mendapatkan teman-teman posko yang tidak hanya baik dan unik, tapi mereka juga hobi menonton drama Korea seperti saya, ngahaha. Alhasil, waktu senggang di posko selalu kami gunakan dengan menonton drama atau film bersama. Kelima orang ini bernama: Bayo (Teknik Geologi), Kezia (Ilmu Hukum), Try (Ilmu Ekonomi), Abu (Kehutanan), dan Ira (Perikanan). Karena kami menempati rumah kosong, maka kami dituntut untuk melakukan segala sesuatu dengan mandiri. Tidak jarang kami selalu melakukan apa saja secara bersama-sama; mulai dari memasak, membersihkan rumah, mencuci piring dan gelas, berbelanja ke pasar, shalat berjamaah di masjid, menghadiri acara buka puasa dari dusun ke dusun, bahkan kesiangan sahur. 

Tanggal 25 kemarin, kami kembali ke Makassar untuk menikmati libur hari raya selama sepekan. Saat tiba di rumah masing-masing, masih saja kami menghabiskan waktu entah itu dengan teleponan, atau saling berbalas pesan. Bagaimana tidak, hidup serumah secara sederhana dan menghadapi berbagai situasi sulit bersama-sama membuat keterikatan di antara kami semakin kental, layaknya keluarga. Maka dari itu, saya selalu berharap, sekembalinya kami ke posko, enam kepala dengan watak dan ego yang masing-masing berbeda, mampu melebur jadi satu demi melalui hari-hari berat ke depannya serta mewujudkan program kerja yang telah kami rancang. Aamiin!

(Try ~ Ira ~ Nunuu ~ Bayo ~ Abu ~ Kezia)
berfoto bersama di depan posko

observasi (?)

bersama adik-adik dari SD 186 Tappale

 usai seminar desa.. hurraaaaay!!!

29 Juli 2014

Perihal Saya yang Jarang Menulis Lagi

Dalam sebuah acara kepenulisan kira-kira sebulan yang lalu, saya bertemu Batara, teman yang paling gemar mengirimkan info apa saja melalui pesan. Kami mengobrol tidak begitu lama, dan beberapa saat setelah kami berpisah, ia kembali memanggil, "oh iya, Nuu. Sering-sering ko menulis, nah!", yang kemudian dibalas dengan nyengiran khas ala Nunuu.

Tidak lama setelahnya, saya melihat kak Tyar, senior sekaligus blogger lucu nan unik, dari kejauhan. Saya pun menghampiri kak Tyar dan memutuskan untuk berbincang-bincang sembari memperhatikan suasana panggung yang masih bising disebabkan acara pembukaan yang baru saja berakhir. Jika sudah bertemu dan bercakap dengan kak Tyar, semua ragam topik akan kami bahas. Dan pada akhirnya, masing-masing dari kita akan bertanya, "apa kabar, blog? terakhir posting kapan?" hixhixhix..

Saya sadari, dua bulan terakhir ini, saya sangat jarang menulis. Kalaupun menulis, hanya sekedar status di beberapa jejaring sosial. Tetapi intinya, saya masih menulis. Hm, mungkin hal ini dikarenakan menulis di jejaring sosial terkesan lebih mudah dan mengalir begitu saja, beda halnya saat hendak menulis di blog ini, saya harus lebih berhati-hati dalam merangkai kata, pun memikirkan bagaimana pendapat orang lain saat membacanya.

Saat ini, saya sedang menghabiskan waktu libur KKN selama seminggu di Makassar, dan saat membuka blog ini, mungkin jika blog saya diibaratkan rumah, tidak jauh beda dengan rumah kosong yang sepi tak berpenghuni; dipenuhi debu, serta sarang laba-laba di berbagai penjuru. Tapi, rumah adalah rumah. Tempat segala sesuatunya tersimpan. Yah, semoga saya selalu diberi kemudahan untuk rutin berbagi disini, rumah ini. 

18 Mei 2014

Sebab Temu Pemusnah Rindu

14 Mei, lab Radio KOSMIK
"Nunuuuu, dari mana ko selama ini? Nunuu toh jahatnyaaa....," ucap kak Isma tergopoh-gopoh sembari berjalan cepat menghampiri saya. 

14 Mei, obrolan pada aplikasi Whatsapp
"Nunuu, pokoknya harus ki' ketemu. Banyak mau kuceritakan :D," kata Ahmad (yang lebih akrab disapa Cekidot) membuat saya haru. "Iya, Ceki. Bangeeet!"

16 Mei, Perpustakaan Pusat Lt. 1
Bersama Kak Jum dan Cekidot, saya menghabiskan waktu senggang usai jumatan dengan menceritakan banyak hal. Mulai dari rencana saya dan Ceki yang ingin mendaftar KKN di kota yang sama, hingga kegalauan Kak Jum yang akan menghadapi Ujian Meja.

17 Mei, Pelataran Gedung IPTEKS
Tiba lebih awal, saya memilih untuk bersender di tembok dan sesekali mengecek ponsel. Tampak kejauhan saya melihat Batara dan kak Syahrir sedang melambaikan tangan dan berdadah-dadah. Duh... habislah saya, pikirku. Iya, tidak lama lagi saya akan menerima omelan atas ketidaknampakan saya untuk beberapa bulan terakhir. Iseng mengawasi sekitar, ups saya menemukan kak Fiqah sedang asyik berbincang di kerumunan. "Nunuuuuu, lama ta' tidak ketemuuu...," sambutnya. Memang benar, kak. Saking lamanya, banyak cerita yang kemudian kita pertukarkan dan banyak rindu yang sungguh malu saya ucap.

Deg deg. Batara muncul. "Bahas apa ko berdua? Ikut dule..," sapanya. "Nunuu, bahagiaku datang meko. Mauko tau, selama ini galau ka' kodong tidak ada sekretarisku...," entah saya harus bahagia atau sedih mendengarnya. "Deh Nunuu, hampirmi bubar band ta' gara-gara tidak ada ko..," tambah kak Syahrir ngawur.

---

Teruntuk kalian, teman-teman dan kakak-kakak yang selalu saja dirindukan meskipun terpisah jurusan dan angkatan, terima kasih karena kalian tetap melebarkan kesabaran atas ketidakhadiranku di setiap kesulitan. 

Ya, aku pulang!

15 Mei 2014

Mengapa Saya?

Rasa-rasanya, beberapa daripadaku mulai jarang terlihat. Entah itu dari keantusiasan saya menghadiri beberapa kegiatan penting, pun gairah untuk sekedar menuliskan beberapa hal dalam blog ini. Saya pun begitu mempertanyakan bagaimana mungkin perputaran waktu mampu mengubah suasana hati manusia dengan begitu cepat. Entah siapa yang harus saya salahkan; lengahnya diri ini untuk berubah, atau justru alam semesta yang begitu payah untuk menyadarkan.

Hmm, sungguh ketidak-karuan hidup ini sangat menyulitkan. Moga saja segala rencana untuk berubah yang sebelumnya hanya sebatas niat dapat terealisasikan, dan pada detik berikutnya kedewasaan mampu melumpuhkan. :)


Seseorang yang sedang berusaha pulih
(sore hari, di teras Himatika)

6 April 2014

Berkunjung ke Bulukumba. Lagi.

Tidak seperti biasanya, hari ini saya berniat rajin. Kamar yang berbulan-bulan tidak pernah dibersihkan oleh si empunya (yang ceritanya sibuk), selalu menjadi penyebab saya dimarahi Ibu. Alhasil saya memutuskan untuk tidak bepergian kemana pun, dan dengan terpaksa tulus berbenah kamar. 

Semenjak saya kewalahan dengan segala rutinitas, saya jarang tidur di kamar. Seharian di luar, pulang, melempar pakaian di sebarang tempat, dan terlelap di depan TV. Tak usah ditanyakan bagaimana repotnya saya ketika akan bergegas ke kampus. Telat bangun, bingung membedakan antara pakaian bersih dan kotor sebab semuanya bercampur, bolak-balik menjumpai cermin setiap kamar hanya untuk memastikan tingkat kerapian jilbab, dan terakhir; kaos kaki hilang sebelah. Bahkan beberapa hari yang lalu saya terpaksa meminjam kaos kaki Riza dikarenakan hal serupa. 

Tatkala beberes tadi, saya menemukan ransel hitam di belakang pintu ditemplok banyak debu. Ransel tersebut jarang saya pakai, hanya ketika akan bepergian jauh dan memerlukan banyak pakaian. Saat membukanya, saya terheran-heran melihat banyak pakaian dan barang di dalamnya. Astaga. Terakhir kali saya kenakan, bulan lalu; sepulang dari Bulukumba.

*

Ini merupakan kedua kalinya saya bertandang ke Bulukumba. Tiga tahun yang lalu, bersama sepuluh orang teman, saya melakukan penelitian untuk mata kuliah WSBM di sana. Hm, Bulukumba memang terkenal dengan pantainya yang indah. Tidak jarang beberapa tempat wisata Bulukumba banyak dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun asing.

Di sela-sela riuhnya perkuliahan, dari jauh-jauh hari saya dan beberapa sobat kampus berencana untuk melepas penat dengan bersama-sama ke Bulukumba. Kebetulan ada rumah Aidil di sana. Usai mengikuti kuliah Analisis Riil pada hari Jumat, segeralah kami berangkat dengan mengendarai motor. Bersama Ainun, Nita, Riza, Ilha, Aidil, Akra, Asdar, Afhy, dan Wawan, kami melakukan perjalanan ketika hari mulai gelap. Dengan jarak tempuh sekitar 5-6 jam dikarenakan letak rumah Aidil yang sangaaaaat jauh, keluhan demi keluhan pun mengudara saat kami tiba hingga kami tertidur pulas.

CABS YUK!!
(Aidil - Wawan - Ainun - Nunuu - Ilha - Akra)

Esok harinya, kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sekitar sebelum mengunjungi beberapa tempat wisata di sana. Whoaaaa...

@ Monumen Balangtaroang Bertani

Berpetualang ke Bulukumba tentu tidak afdal jika tidak mengunjungi Pantai Tanjung Bira, pantai dengan sejuta pesona alam. Karena cuaca masih terik, sesampainya di sana kami melancong ke Pulau Liukang dengan menyewa kapal + banana boat. Pada Pulau Liukang, terdapat pusat penangkaran penyu terapung dan pembibitan teripang. Tapi, kami lebih memilih untuk menyantap bekal makan siang yang dibuat oleh Ibu Aidil ketimbang menyelam untuk melihat penyu.

Yeaaaay

(kiri-kanan) Ilha - Nunuu - Nita - Riza - Ainun - Akra - Aidil - Asdar - Wawan


Sekembalinya kami ke Bira, di tengah perjalanan saya mengalami sedikit kecelakaan. Hmm, apa masih bisa dikatakan sedikit jika sudah tenggelam? Iya, tenggelam :(( Tak perlulah saya paparkan bahwa di tengah perjalanan Liukang-Bira yang berjarak sepuluh menit, saya kecemplung di tengah laut, memakai baju pelampung yang kondisinya tidak begitu erat, dengan kapal yang ditumpangi teman-teman yang tetap melaju, tidak menyadari kemalangan saya. Ah, membayangkannya saja membuat saya kembali bergidik ngeri.

Sebelum......... T^T

Masih dengan suasana pasca jatuhnya saya dari banana boat, rupanya saya belum jera menyambangi laut. Usai dari Bira, kami ke Pantai Bara. Pantai Bara belum setenar Bira sebab jarak yang lumayan jauh membuat pantai ini jarang didatangi pengunjung. Tapi, bagi kalian yang menyukai ketenangan, Pantai Bara merupakan tempat yang cocok. Menjelang sore, kami bersiap-siap untuk kembali ke rumah, tak lupa mampir dan berfoto-foto cantik di Kebun Karet.

duh! #IYKWIM


Saya pernah membaca buku dari seorang travel writer, Agustinus Wibowo. Kutipannya seperti ini: "Ada orang yang pergi ke ratusan negara, sampai sudah tak ingat lagi mana-mana saja yang pernah didatangi, selain bukti foto-foto dan cap di paspor yang menjadi piala kebanggaan. Juga ada orang, yang berjalan perlahan-lahan, mendalami negeri-negeri, menyelami manusia, menganalisa sejarah, mempelajari budaya, dan mencatat setiap cerita." - Titik Nol

Selamat berakhir pekan!!