5 Juni 2013

Selamat Ulang Tahun, Kak Muhary

Ketika sedang menuju kasir bersama Ams untuk menanyakan berapa jumlah harga dari buku-buku yang kami ambil, tiba-tiba saya melihat dia, adalah seorang penulis yang belum lama ini saya temui pada acara Pekan Literasi. Dia adalah Muhary Wahyu Nurba. Sontak saya menjabat tangannya dan memperkenalkan diri sebagai panitia dari kegiatan Pekan Literasi tersebut. 

Kak Muhary : Bikin apa disini?
Saya : Beli buku, Kak.
Kak Muhary : Oh, ini lagi temani anak cari buku juga *menengok ke arah anaknya* Hei, "Balada Ching-Ching" juga bagus *sambil melihat sebuah buku yang telah diambil sebelumnya oleh Ams* Menulis?
Saya : Ya?
Kak Muhary : Menulis?
Saya : Ng..ng, i..ya
Kak Muhary : Yaiyalaaah harus menulis, kan anak FLP *jleb. Tau kalau nanti ada acara Mimbar Penyair?
Saya : Tidak tahu kak, hehe
Kak Muhary : Tunggu, tunggu, siapa tadi namanya?
Saya : Nunuu, kak.
(Dengan terburu-buru Kak Muhary meraih smartphone pada saku celananya, lalu membuka aplikasi Facebook).
Kak Muhary : Nama akun facebook nya siapa?
Saya : Nur Rahmah Makmur..
Kak Muhary : Loh, belum berteman yaa?
Saya : Oh iya di' hehe
Kak Muhary : Nanti saya kasi masuk di grup Mimbar Penyair yaa, biar tau informasinya
Saya : Oh iya, makasih kak.
Kak Muhary : Kamu harus bangga loh, permintaan pertemanan saya sudah sangat banyak tapi belum sempat saya terima, nanti kamu pamer ke mereka ya kalau sudah di-add sama saya, hahahahahaaa
Saya : Ehehehe --" ..............................

Beberapa jam yang lalu saya menerima permintaan pertemanan dari Kak Muhary, agak terharu pastinya. Pada kronologi profilnya saya melihat enam buah foto dari anaknya yang tadi sempat saya jumpai, namanya Zayyan. Saya kembali membuka beranda facebook, dan menemukan...


Seindah dan senyata apapun sebuah kebetulan atau ketidaksengajaan, di balik itu semua pasti ada penyebabnya~ Selamat Ulang Tahun, Kak !:)

2 Juni 2013

(photopost) Menjelang Pagi

lalu lintas yang sepi...


Jalan Batua Raya \m/




sekolahku tersayang :')

bulat!


mampir ke rumah kakak

Azzam dan teman sepermainannya

pagi telah kembali

Hey, SELAMAT PAGI.... !:)

- diambil dengan menggunakan kamera Symbian Smartphone

Dua dan Berdua

Rapat hari ini ditunda. Cukup sedih rasanya, mengingat sudah sebulan lebih saya tidak pernah berjumpa lagi dengan teman-teman FLP. Saya dan Ainun pun bingung harus ke mana dan melakukan aktivitas apa. Terkurung terik matahari, akhirnya kami berdua memutuskan untuk duduk sejenak di teras depan Gedung Pusat Kebudayaan UNHAS (Sekretariat FLP).

Dimulai dari beberapa pertanyaan saya yang ingin mengetahui bagaimana kondisi terbaru dari permasalahan yang baru-baru ini menimpanya, rupanya Ainun merespon dengan sangat bersemangat. Ainun mulai menjawab pertanyaan saya, dan saya kembali melontarkan pertanyaan lainnya. Begitulah seterusnya hingga si Batara muncul dengan setelan topi dan rompi yang agak aneh *ups. Kemudian Batara dan Ainun memanfaatkan waktu dengan membahas LPJ Pekan Literasi yang masih belum rampung. Sedangkan saya, huahahahaha, saya menemukan beberapa rekaman lagu hasil ciptaan Batara sendiri pada ponselnya, dan itu membuat saya semakin yakin akan keunikan makhluk satu ini. Heyy Batara, lagumu yang berjudul "You look the moon" benar-benar catchy :3

Setelah berpisah dengan Batara di tikungan jalan, saya dan Ainun melanjutkan perjalanan ke salah satu Mall terpadat di Makassar. Rencananya sih hanya ingin melihat-lihat lalu membeli buku. Namun, perut yang keroncongan memaksa kami untuk segera memesan makanan semurah dan sebanyak mungkin #MentalMahasiswa. Saat mengambil nomor pesanan, secara kebetulan kami memperoleh nomor yang sama, nomor 02.

Terlepas dari semua itu, di sela-sela kami mencicipi makanan penutup (cieilah), Ainun melanjutkan pembahasan yang tadinya sempat terputus karena kehadiran Batara di sekret. Kali ini dia lebih serius dan terlihat sedih. Sambil mengunyah pempek, saya mulai mengerti dengan permasalahan Ainun yang dulunya saya tanggapi dengan begitu santai. Makanan habis dan Ainun masih bercerita dengan lantangnya. Sempat butiran-butiran kecil menggelayut di pipi kami berdua. Itu wajar baginya. Tapi tidak, untuk saya ._. Tanggapan serta solusi sesat mulai saya timpalkan. Ainun menyimaknya dengan saksama. Oh, ketahuilah kawan, kamu sedang meminta pendapat dari orang yang sangat tidak berpengalaman :))

Di akhir pembahasan, Ainun balik mengemukakan pendapat mengenai saya. Saya cukup dibuat tersanjung awalnya, namun setelah itu, ihik, mungkin ada baiknya juga jika saya mengurangi ke-ceplas-ceplos-an saya. Biar saya dapat jodoh, katanya -_- Dua jam berlalu dan kembali ke tujuan awal kami, yaitu melihat-lihat buku. Yap, sekedar melihat-lihat :') *cium dompet*. Rencana tinggallah rencana. Sebuah buku yang tampaknya mampu menjadi solusi dari kegundahan Ainun beberapa hari terakhir ini, kini telah berada di genggamannya. Ainun mantap untuk membelinya, dan saya mantap untuk meminjamnya *eh. Ah, ya, dan saat kami menyimpan tas di tempat penitipan barang, lagi-lagi kami memperoleh nomor 02. "Ada apa dengan angka dua ya, Nuu?", tanya Ainun.

Hari semakin gelap, saatnya untuk pulang. Eh, rupanya ada pameran Pakaian & Aksesoris di lantai dasar. "ayok liat-liat di dalam," ajak Ainun. Selang beberapa menit kemudian, kami sudah menenteng kantongan yang berisi masing-masing dua potong pakaian. Hati senang, uang saku melayang ~

Ainun - Nunuu

29 Mei 2013

Selasa Malam yang (mungkin) Akan Dirindukan

     Selasa. Dikala senja telah menuju peraduan, maka disaat itu pulalah saya harus bersiap-siap untuk menemui salah seorang teman yang sudah menunggu agak lama di persimpangan jalan. Dia adalah Auliah. Yap, sejak sebulan yang lalu, sudah merupakan agenda rutin kami untuk bertemu di selasa malam guna mengadakan perjalanan dari satu kost teman ke kost teman yang lain. Tujuan utama kami sebenarnya adalah belajar   bersama sekaligus berburu jawaban tugas Metode Numerik yang setiap pekannya diperiksa dengan jeli oleh dosen. Bermodalkan sebuah alasan yang menyangkut akademik, kami berdua yang notabene adalah "anak rumahan", tentunya memperoleh lampu hijau untuk bepergian di malam hari. 

     Penyelesaian tugas yang begitu sulit terkadang membuat teman-teman mulai malas untuk mengerjakannya. Mereka memilih untuk menyalin pekerjaan teman lainnya di esok hari. Sesungguhnya, saya dan Auliah pun tahu bahwa kami berdua tidak akan jauh-jauh dari tindakan menyalin tugas di pagi hari. Toh, hanya beberapa dari kami yang benar-benar tekun dan bersabar untuk berusaha menemukan solusi dari setiap persoalan. Namun, selasa malam adalah selasa malam. Saya dan Auliah harus tetap menelusuri ubun-ubun kota dan membahas beberapa materi meskipun pada akhirnya tugas kami menjauhi kata rampung. 

     Saat melewati deretan pepohonan di kampus pada malam hari, Auliah hanya bisa bergumam, "ternyata begini ya suasana kampus di malam hari..," lalu kami sama-sama terdiam. Malam memang selalu lekat dengan kesunyian, serupa kenangan yang kian menuai. Begitu juga ketika kami memutuskan untuk menikmati makan malam di daerah pondokan sekitar kampus. Saya sangat menikmati saat-saat dimana saya tak merasa dikhawatirkan, karena mungkin saja kebebasan merupakan salah satu indikasi dari kepercayaan. Dan yang terpenting, keinginan saya untuk menjadi 'anak kost sejati' seperti terealisasi.

     Malam ini saya dan Auliah kembali mengarungi keremangan kota yang kerap mengerjap. Bersama Jihan, kami bertiga berkutat menyelesaikan tugas final yang diberikan oleh dosen pekan lalu. Ya, tugas tersebut adalah tugas terakhir dari mata kuliah Metode Numerik. Namun, lagi-lagi kami menemui kesulitan. Digit yang begitu banyak serta perhitungan yang terkadang keliru membuat kami stuck pada metode pertama. 

tulis tangan, salah hitung

pake Ms.Excel, malah bingung -..-

     Sesampainya di rumah, saya pun berniat untuk melanjutkan tugas tadi semampunya. Tiba-tiba, sebuah pesan dari Jihan membatalkan niat saya. "Jangan ko ikuti itu, salah lagi. Dapatma' yang paling mendekati." Selalu saja, selalu saja begini. Selasa malam yang seharusnya menjadi jalan keluar untuk menuntaskan tugas, justru menambah beban pada esok harinya. Selasa malam yang seharusnya membuat saya lega, justru membuat saya kepikiran. Hmm, entahlah. Mungkin saja ini yang menjadi penyebab selasa malam akan dirindukan ...

18 Mei 2013

Fight for UAS

Ujian merupakan sebuah alat ukur untuk menentukan keberhasilan belajar seseorang. Ada juga yang berpendapat bahwa ujian adalah kesusahan pada tubuh dan jiwa. Oh, bagaimana mungkin empat bulan bisa berlalu begitu cepat tanpa saya sadari. Kini, peperangan tinggal menghitung hari. Ujian Akhir Semester telah menanti. 

Dan.. untuk itu, yang diperlukan hanyalah raga yang akan bertahan lebih jauh dari biasanya, otak yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, tubuh yang akan lebih sering menopang, tangan yang akan lebih kuat men"cakar", dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa.. *kemudian naik Gunung Semeru*

Saatnya menajamkan kembali ingatan. Memamah "persamaan" lalu memaksanya untuk dijejalkan. Demi ujian, kawan.....

para pejuang Aljabar \m/

(ki-ka) Nina, Riska, Winda I, Susi, Ainun, Winda II, Ulfah, Nunuu


soal latihan Sub Grup pada Struktur Aljabar