9 Mei 2013

Putih Abu-abu

Senin hingga sabtu. Lembut kaki ini berayun. Derap langkah yang kian menggema. Pertanda sebuah cemas yang disuarakan. Aku terlambat. Lagi. Gelak canda tawa mulai terdengar dari beberapa ruang. Bagai disulap, cemasku memudar perlahan. Kawanku masih berceloteh riang. Aku aman.

Di bawah teduhnya atap bangunan. Begitu banyak pilihan. Tangisan, harapan, impian, persahabatan, kebosanan, dan perbedaan. Tak akan koyak ditelan angin perubahan. Tak akan lesap dirampas takdir perjodohan. 

Tiga tahun lamanya. Sebuah pisah yang tak dapat kita hentikan. Dan waktu yang terus-menerus mengulang kehilangan. Aku, kau, kalian, dan mereka, kita sama-sama tahu. Bahwa segala kenangan akan menjelma menjadi makhluk-makhluk seram yang akan merenggut malam-malam kita. Ya, mereka bernama sepi.

Bait demi bait kini kuhadirkan. Sebab aku masih terjaga. Atau mungkin saja karena sebuah kewaspadaan. Untuk mereka di hari-hari mendatang. Yang akan menenggelamkanmu dalam ingatan ~


kurus :3

2 Mei 2013

Entah

"tidak butuh penyesalan jika kita masih mengeja saat mereka sudah membaca. Karena yang lebih penting adalah apa yang kita eja dan apa yang mereka baca"

Kuharap kalimat diatas mampu menyelipkan sisa-sisa asa dalam saraf jenuhku. Tak tahu lagi bagaimana mendeskripsikan kepenatan ini. Tak tahu lagi harus bagaimana saat membayangkan ujung nasib yang, hm, abu-abu. 

Beberapa hari yang lalu aku berjumpa dengannya, adalah salah satu teman baikku. Di sebuah ruangan di dalam perpustakaan, kutemani dia mengerjakan tugas kuliahnya. Tugasnya sangat banyak. Namun dia menikmatinya. Lalu kulontarkan beberapa pertanyaan mengenai materi perkuliahannya. Ada keluhan dalam setiap penjelasannya, namun tetap saja dia menikmatinya. Dia balik bertanya kepadaku. Ha-ha-ha, ingin rasanya aku tertawa. 
"... entahlah. Semakin kesini, materiku perkuliahanku semakin mengada-ada," berikut potongan kalimatku saat menjawab pertanyaannya. 
"Hahahahaha. Tenang Nuu, masih ada kesempatan. Masuk di jurusanku saja," ujarnya. 

Menyesal. Aduh, kenapa dulunya aku memilih itu? Kenapa dulunya aku tidak belajar sungguh-sungguh? Bukan, ini bukan masalah penyesalan. Kalaupun aku mampu menjelma ke masa lalu, pilihanku tetap. Sungguh. Hanya saja, hmmm.... entahlah.

Sejak di bangku Taman Kanak-kanak, kita disuguhi perhitungan. Hingga menginjak bangku Sekolah Menengah Atas, kita tetap disuguhi materi perhitungan. Tiga belas tahun, dan aku menyukainya. Lalu, kucoba menapaki jejak jalan yang kusukai. Pagi, siang, malam, kulalui. Setiap hari. Sampai suatu saat aku lelah, hingga berhari-hari. Aku tertinggal, namun aku masih menyemangati diri. Berjalan lagi, namun tak pasti. Sampai akhirnya jenuh seperti ini. 

Sudah sepatutnya aku menyesal atas setiap tindakan buruk di masa lalu. Namun, menyesal karena telah memilih jalan ini kurasa tidak perlu. "Hidup ini adalah sebuah pembelajaran, dan jika kita berniat ke masa lalu untuk mengubahnya, itu namanya bukan pembelajaran," kata seseorang. Mungkin ini waktunya untuk mengistirahatkan kepala yang terus menderu deras sejenak. Semoga tidak ada kejenuhan lagi setelahnya ... :')

Sore hari, rintik hujan menemani. Begitu juga di pipi.

29 April 2013

Bertemu Penulis Nasional

...takkan mati kejujuran itu,
takkan runtuh yang datar, takkan putus yang kendur,
takkan patah yang lentur.
(Lontara Rindu, S. Gegge Mappangewa)


sekuntum cahaya berpendaran
hidupkan segenap kesunyian malam
pohon-pohon runduk dalam sembahyang
rindu menderas menyambut salam
sempurna kuserahkan jiwa kasmaran
telaga airmata tumpah menggenang
perjalanan panjang dan melelahkan
memburumu dalam rindu yang tak padam
(Sekuntum Cahaya, Muhary Wahyu Nurba)



 teman-teman panitia dan Muhary Wahyu Nurba

"Waktu itu, aku juga merasa sudah sangat mengenalmu. Aku yakin kita pasti sudah bertemu, sangat yakin. Hanya saja aku lupa kapan dan dimana pertemuan itu terjadi. Barangkali di sajak-sajak penyair yang tak pernah selesai, atau di halaman belakang sebuah roman yang berakhir tak bahagia, atau di dalam lirik-lirik lagu yang mendentingkan sunyi di telinga, atau di alun nada musik semesta yang kudengar semasa masih di rahim ibu. Entahlah."
(Sepatu Dahlan, Khrisna Pabichara)


bersama Khrisna Pabichara

14 April 2013

Teruntuk Dia yang Berulang Tahun

Aku masih ingat malam itu. Saat kudapati diriku tengah sibuk menenggelamkan diri di depan layar kaca. Saat mataku tak berkedip menatap seorang bintang dengan segala kesempurnaannya. Saat mimpi dan harap  mulai menadah. Aku masih ingat. 

Aku masih ingat kejadian itu. Saat kau meluangkan sedikit pulsa untuk membalas pesan pendekku, dan akhirnya kita saling berbalas pesan, pesan yang semakin panjang. Kuberanikan diri untuk menghubungimu, sayangnya kau tak menyahut panggilanku. Aku masih ingat.

Aku masih ingat hari itu. Hari yang tak terduga mempertemukan kita pertama kalinya. Saat tatap sendu dengan sebuah senyuman khas sukses mengoyak pertahanan hatiku. Saat suasana gugup menyerangku tatkala kau menyapaku pelan. Saat isak hanya mampu tertahan ketika kau memberiku mikrofon untuk bernyanyi bersamamu. Aku masih ingat.

Aku masih ingat gambar itu. Bersama seorang sahabat, kau tersenyum sambil mengangkat kedua lenganmu. Tidak mungkin aku tidak melihatnya. Kau masih mengenakan benda itu, adalah pemberian dariku tiga tahun sebelum gambar tersebut diambil. Aku masih ingat. 

Aku masih ingat tanggal itu. Beberapa saat sebelum tanggal dan bulan kelahiranmu. Aku menyiapkan sebuah hadiah bersama surat yang mungkin saja kau senang jika telah menerimanya. Tapi gagal. Semuanya lenyap  (lebih tepatnya dibuat lenyap) di usiamu yang ke-23. Aku masih ingat.

Aku masih ingat lagu itu. Lagu yang kau dendangkan pertama kalinya di hadapanku, sebelum kau titipkan sebuah ucapan "selamat ulang tahun yang ke-18" kepadaku. Aku masih ingat.

Aku masih ingat tempat itu. Kita berjabat tangan, saling mempererat perjumpaan, dan berbincang perihal rencana ke depan. Malam yang semakin larut pun mengakhiri pertemuan kita. Aku masih ingat.

Biarkan aku mengingat semuanya. Biarkan aku sejenak memenggal rasa. Rasa yang tak mampu kulisankan, tak mampu kudendangkan, hanya bergolak lantang menuju ke arahmu, menghampirimu. Dan kini, kubiarkan luapan itu berderai luruh. Berpencar menjadi kata-kata, yang membuatku bicara. Teruntuk kau yang begitu jauh. Seiring bertambahnya usiamu, semoga engkau sehat selalu.

selamat ulang tahun, Adly Fayruz

14 April 2013 - #HBD26AdlyFayruz

2 April 2013

Paradigma

Perubahan adalah sebuah realitas yang harus dihadapi. Detik demi detik, hari berganti hari. Semuanya tidak dapat dielakkan. Entah, kemana kaki ini harus melangkah. Demi sebuah cita-cita yang masih menggantung di angkasa.

Ya, rasanya baru kemarin saya menangis sesenggukan hanya karena kalah bermain kelereng bersama tetangga. Rasanya baru kemarin saya merengek-rengek minta ransel bergambar "tweety" untuk dipakai ke sekolah. Rasanya baru kemarin saya berfoto bersama dia saat perpisahan Sekolah Dasar *duh *abaikan.


Waktu membawa kita berlari begitu cepat. Memaksa kita untuk menatap ke depan. Menarik kita untuk menjemput harapan. Namun terkadang, kenangan selalu mampu meredakan kerinduan. Hanya dengan menoleh sebentar saja, mengingat sedikit saja, maka senyuman pun akan mengembang.

"Hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah" - Dee.